Jalan pulang
sang pengelana cahaya
Aku tak tahu apa yang kutuliskan, memang ada rencana apa yang ingin
kutuliskan, namun pada saat akan mengirimkan, selalu saja berubah total. Selalu
ada perintah atau keyakinan untuk mengirimkan ini saja. Maka tulisan ini
terutama bukan untuk orang lain. Terutama resonansi untuk diriku sendiri. Untuk
memperbaiki diriku sendiri. Sebuah kisah untuk meyakinanku sendiri. Bila ada
cahaya yag mampu menerangi di hati yang membaca maka cahaya iytu bukan berasal
dariku.
Memang betapa inginku ikut menyalakan lilin atau api dalam jiwamu, siapapun
adanya engkau yang membaca ini, namun semua itu diluar kemampuanku, kecuali
dirimu sendiri yang meletakan api (energy) ini yang menyalakan obor untuk
menerangi jalan dan langkahmu. Semoga.
Masalah terbesar kita adalah tidak mampu atau tidak bisa “berkomunikasi” dg
Allah. Krn Allah “bicara” dari balik layar. Dari screen. Bila kita ada di dalam
layar komputer. Maka yg sebenarnya bicara dg kita adalah yg ada di dalam
komputer. Karena kita tidak akan mampu mengerti bahasa langsung dari Allah.
Kita hanya mampu mengerti bahasa yg ada di dalam komputer. Komputer alam inilah
yg berbicara dalam program. Rencana. Ketentuan. Ketetapan. Kesadaran yg ada di
komputer alam inilah yg bicara dengan ruh dalam diri. Micro dan makro. Alam
kecil dan alam semesta. Kesadaran alam mikro. Ketika bicara dengan alam makro.
Sederhananya dimisalkan kesadaran anak balita ketika bicara dg orang tuanya. Yg
akhli Ilmu alam misalnya. Bandingkan kepandaian balita dg saintis yaitu orang
tuanya. Anak itu hanya berkata orang tuanya sangat pandai. Tapi tdk tahu sampai
dimana kepandaian orang tuanya itu. Maka untuk belajar kepandaian orang tuanya
memerlukan proses dan waktu. Demikian permisalan sederhana.
Perumpamaan lainnya, semisal seorang pengarang kisah novel, dan
bagaimanakah caranya tokoh di dalam kisah novel itu “berhubungan” dengan
pengarang itu. Bagaimanakah tokoh yang diciptakan itu berkomunikasi dengan sang
penciptanya?. Bagaimana bila tokoh yang jahat berdoa ingin berganti peran?.
Bagaimana pula bila semua orang dalam novelnya ingin kaya?. Dan bagaimana pula
semua tokohnya memohon untuk baik dan sempurna?. Bisakah tokoh di dalam kisah
itu bias bicara dan mengenal sang pengarangnya, sang penciptanya, yang
menghidupkan dan mematikan hidupnya dalam novel itu?. Bagaimana caranya keluar
dari kisah novel dan masuk ke dimensi sang pengarang?. Apakah dimensi sang
pengarang sama dengan dimensi kisah dalam novel?. Samakah wujud sang tokoh
dengan sang pengarang?. Samakah bahasa sang tokoh itu dengan bahasa penciptaannya?.
Sang tokoh dalam novel itu hanya bias mengenali sang pengarang novel bila mampu
mengenali sebanyak mungkin tanda-tanda yang ada di dalam novel itu yang
membuktikan bahwa novel itu adalah ciptaannya, perasaan sang pengarang, konsep
cerita, renungan, bahasa, kata, kalimat dan hal lainnya yang membuktikan novel
itu ciptaannya.
Demikian perumpamaan demi perumpamaan untuk memudahkan membayangkan
hubungan atau komunikasi hamba dengan tuannya, manusia dengan Tuhannya.
Bagaimana memikirkan Allah, bagaimana mengenali Allah. Bagaimana membuktikan
keberadaan Allah. Bagaimana melihat kenyataan Allah, bagaimana mengenali
kegaiban Allah. Bagaimana memikirkan Allah.
Ya sayangnya ketika berfikir tentang Allah. Fikiran kita lbh banyak kosong.
Kita sering tdk mampu merasa kalau Allah itu hidup. Allah itu merasa. Allah itu
mendengar. Allah itu melihat. Allah itu berfikir. Allah itu berkehendak. Allah
itu memiliki sifat. Dan dalam gerak. Aktivitas. Fikiran kita selalu dalam angan
tentang apa-apa yg kita sendiri menganggap hampa atau mustahil. Tidak mungkin.
Atau kita sebut keraguan. Mk ketika berkomunikasi kpd Allah. Biasanya kita
hanya “bicara sendiri”. Dan tak pernah menangkap apa yg dijawab oleh Allah.
Mengingat Allah…
Kalimat sederhana dan teramat sederhana ini menjadi teoriris
Berpilin. Ruwet.. kompleks.. dan sulit difahami..
Begitu carut marut.. dengan dogma.. dengan teori..
Dengan harus begini dan begitu..
…
Suatu hal yg teramat sangat sederhana
Kita mengingat sebagaimana mengingat biasanya
Berfikir sebagaimana biasanya berfikir..
Lalu berproses terus menerus
Tergantung tingkat kesadaran
Atau tergantung ilmu yg dimilikinya
Meningkat dari SD..SMP..SMA..Universitas dan seterusnya..
Tingkat kelas pengajaran Allah..
Maka apapun yg bisa dilakukan untuk mengingat mari kita gunakan. Kita tidak
bisa berenang. Hanya dengan membaca kitab juara olimpiade renang. Kita harus
mencari sungai atau kolam renang dan mencoba berenang. Kita tidak bisa
bersepeda..komputer. Dan lain-lain dg hanya membaca kisah saja.
Belajar..berusaha. Kita tidak bisa mendapatkan gigi yg bersih dan sehat. Dengan
hanya meyakini sebuah metode gosok gigi terbaik saja. Maka berusahalah gosok
gigi.
Belajarlah berenang. Berlatihlah naik sepeda. Semisal itu berusahalah berfikir
tentang Allah, apa saja
Terserah bagaimana metodenya.Yg penting tetap tekun memikirkan Allah
Memikirkan alam dan ciptaanNya yg lain. Biar Allah yg menunjukkan
jalan-jalannya. Tentu saja bila ingin mengikuti salah satu jalan atau metode yg
ditunjukkan. Akan lebih baik karena lebih mudah dan lebih cepat. Seperti
berlatih silat. Dengan bertemu guru silat tentu saja akan lebih cepat. Karena
tanpa guru memang jauh lebih besar kemungkinan tersesat. Mengingat Allah.
Adalah proses sederhana dan biasa. Mari kita mulai dengan yg paling sederhana
dan mudah..
Mengenali
Dzat yg Hidup..
Dzat yg
pandai dan cerdas
Dzat yg
penuh gerak dan aktivitas
Selalu
menjaga dan mencipta
Dzat yg
menyayangi
Dzat yg
memiliki sifat…
Sifat-sifat yg
disebutkan olehNya..
Dzat yg
memiliki sifat demikian ini
Menyebut
nama dirinya dg nama yg indah Allah..
Maka
ingatlah keindahannya dan keindahan alam ciptaanNya saat mengingat Alam
Maka ingatlah kehebatanNya saat mengingat keluarbiasaan dan kesempurnaan
alam ciptaanNya..
Maka
ingatlah dan fikirkan apapun tentang alam semesta ini..
Lalu naikkan
kesadaran sedikit saja
Bahwa semua
itu dalam ketentuan dan aturan serta liputan dan kekuasan Allah..
Maka berfikirlah
Lalu rasakan komunikasi itu
Rasakan saat Allah menjawab
Rasakan saat Allah mengajari
Rasakan saat Allah menyayangi
Rasakan saat Allah mencintai
Rasakan saat Allah menggerakkan
Rasakan saat Allah mengalirkan energy
Rasakan saat Allah meniupkan rasa
Rasakan saat Allah memberi kesadaran
Amati atas semua rasa
Saksikan
Saksikan dalam persaksian
Maha suci Allah
Sesungguhnya semua ini Engkau ciptakan tidak sia-sia..
Dan aku yg pertama-tama berserah diri
Dalam perlindunganMu
Melanjutkan langkah yang sudah dimulai dengan mengikuti surah Permulaan (Al
Fatihah)
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan, Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan
Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan
yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada
mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang
sesat.(QS.
Al Fatihah)
Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An
nur)
Entitas
cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili
kepentingan dan Rab di muka bumi.
Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita
berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat
pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan inipun hanya akan berguna
bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.
Dalam berkisah inipun akan selalu menggunakan perumpamaan demi perumpamaan.
Mungkin salah satu atau lebih perumpamaan ada yang mampu memahaminya tergantung
tingkat pengetahuan yang memberi cobtoh (diriku) dan juga tergantung yang
membaca. Karena begitu sederhananya yang ingin disampaikan tetapi sedemikian
rumitnya untuk disampaikan.
Sebagai contoh sederhana, bila saya ingin mencoba memberi pengertian
tentang “rasa buah persimon”. Sangat mudah bila saya hanya memberikan buah itu
dan orang memakannya. Tetapi bagaimana caranyapun saya menyampaikan maka
teramat sangat sulit kecuali saya membuat perumpamaan. Misalnya, itu seumpama
buah kesemek rasanya, dan orang yang sudah pernah makan buah itu akan mampu
mendekati rasanya, sehingga suatu saat bila dia menemukan buah persimon yang
sebenarnya, dia akan mampu meyakini bahwa itulah buah persimon yang saya coba
katakan.
Masalahnya bila orang itu belum pernah makan buah kesemek, maka diapun akan
kebingungan, maka saya akan memudahkan lagi dengan contoh yang agak lebih jauh
yaitu buah apel. Tetapi sekalipun apel orang masih akan berdebat, apakah apel
malang, apel yang ini atau apel yang itu. Tetapi semuanya tetap salah, sampai
dia mampu menemukan buah persimon seperti yag digambarkan dan memakannya. Namun
bias jadi saat makan buah persimon, dia akan memiliki persepsi yang berbeda,
ada yang berkata enak, atau tidak enak, ada yang berkata sangat beda dan
lainnya.
Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An
nur)
Entitas
cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili
kepentingan dan Rab di muka bumi.
Allah memberikan perumpamaan tentang cahaya dalam Al Quran dalam surah yang
berjudul Cahaya. Sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi juga teramat
sangat sulit dan luar biasa. Karena makna cahaya yang menurut sains itu
sedemikian dalam dan luar biasa. Sedemikan hebat rumit dan luar biasa makna
cahaya ini. Ummat manusia atau akhli ilmu alam telah bergabung, berlomba-lomba
mencoba mengerti makna cahaya ini. Sedemikan banyak dana dan waktu yang telah
diusahakan. Berkumpul begitu banyak manusia cerdas dan mencurahkan seluruh
waktu dan hidupnya untuk mengerti tentang cahaya ini.
Kemajuan makna cahaya ini telah membawa ummat manusia ke era yang tak terbayangkan,
era technology yang luar biasa. Kemajuan yang tak terbayangkan, seolah mimpi.
Kita mampu melihat “hal-hal ajaib” bahkan saat kita masih kecil tak
terbayangkan sekalipun dalam mimpi. Komputer, robot, pesawat terbang, televisi,
mobile phone adalah hal sehari-hari yang biasa kita lihat. Tetapi bila kita
bawa ke 50 tahun yang lalu maka kita akan menjadi makhluk aliens yang ajaib.
Bayangkan kita dating dengan pesawat terbang ke tahun 1900 membawa televisi,
hp, dll, mungkin kita dianggap dewa, dan bila kisah itu dikisahkan ke anak
cucunya maka akan menjadi legenda para dewa.
Para akhli yang menekuni cahaya ini memang sudah mampu menguak sebagian
kecil makna cahaya itu, tetapi masih begitu banyak misteri cahaya yang tak
terpecahkan. Para akhli masih tetap “tidak tahu” apa itu cahaya. Seperti
sesuatu itu bias dikatakan sebagai tumbuhan, tetapi juga hewan, atau bias
dikatakan sebagai hidup tetapi juga tidak hidup. Bisa dikatakan sebagai materi,
tetapi gelombang dan juga sebagai energy.
Al Quran membuat perumpamaan yang diberikan kepada manusia sekitar 1500
tahun yang lalu di padang pasir yang terbelakang, dan bisa difahami oleh
manusia di jaman itu dan di tempat itu. Dan tetapi juga bias difahami manusia
di jaman ini, dimanapun tempatnya berada.
Perumpaannya adalah berikut:
Allah
(Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah
seperti sebuah misbah (lubang yang tak tembus), yang di dalamnya ada pelita
besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur
(sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja)
hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya
(berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (QS. An nur 35)
Aku tidak mencoba menjelaskan ayat demi ayat dalam surah ini, silahkan
dimaknai dan silahkan mencoba bertanya kepada akhlinya. Yang akan kuceritakan
adalah membuat perumpamaan atau contoh atau permisalan berdasarkan surah itu
tentu saja berdasarkan kefahaman saja. Mungkin ada yang bias mengambil hal
yangs sederhana ini.
1. Seorang akhli robot sedang berusaha
menciptakan dan menyempurnakan robot. Lalu akhli robot itu merencanakan membuat
taman di sebuah hutan yang jauh dari rumahnya. Dia mengirimkan robot-robotnya
untuk membangun taman dan perumahan yang indah di hutan itu. Setiap robot
dengan tugas dan desain khusus. Dan setiap robot terprogram untuk menemukan
jalan pulang. Dan robot itu terhubung dengan remote control dengan sang
pencipta robot itu. Sang robot adalah robot cerdas namun dikirim dengan kondisi
“baru” kosong dan siap menerima program, hanya terisi operating system, namun
program aplikasinya harus diinstal setelah tiba di tempat. Program demi program
akan diinstal dari jarak jauh bila robot itu telah terkoneksi dengan server
utamanya. Robot yang baik pasti mampu menghidupkan saluran frekuensi “wifi” nya
sehingga selalu terhubung dengan pusat pemancar. Dengan wifi ini mampu
menghubungi web pusat. Dan tentunya harus memilih program yang sesuai dengan
peruntukannya. Sehingga mampu membangun taman bermaimn ini. Bila tugasnya
selesai maka mampu menerima petunjuk jalan pulang ke tempat penciptanya. Dan
sang pencipta tahu mana robot yang sempurna. Bagi robot yang gagal maka tentu
akan di daur ulang, masuk keranjang sampah. Sang pencipta akan memilih
robot-robot yang berhasil dengan tugasnya.
2. Perumpamaan kedua, bila seandainya robot
ini berasal dari dimensi lain, dan robot ini berupa cahaya. Seperti ksatria
langit atau entitas cahaya langit. Kita sebut saja robot ini dengan istilah
robot RH (ruh) yang berasal dari jutaan atau milyaran robot RH di langit. Robot
RH yang terpilih oleh sang pencipta robot RH untuk disempurnakan, untuk
menyempurnakannya robot ini dikirimkan kea lam lain yaitu dunia untuk
menjalankan tugas dari sang pencipta dan juga untuk menentukan mana robot RH
yang terbaik. Bersama robot RH ini, sang pencipta menciptakan operating system
yang kita istilahkan dengan M (semisal unix atau semacam itu) dan juga
menciptakan program tugas di dunia yang diistilahkan dengan N (semisal
Microsoft office atau yang lebih hebat lagi, program membuat rumah, program
membuat jembatan, membangun bandara atau yang lebih hebat semisal membuat
pesawat terbang, tv, hp dll). Progam MN inilah yang akan diberikan sedikit demi
sedikit disempurnakan untuk robot RH. Sang Pencipta robot RH ini ingin
menyempurnakan RH ini sesuai dengan rencananya. Inilah MNRH yang kita sebut
sebagai ksatria langit yang diturunkan ke alam dunia ini yaitu MNRH (MiN RuHi)
yang terpilih dan berasal dari jutaan atau milayaran RHMN di alam lain atau
dari RHMN (RaHMaN). MN RH ini setelah selesai menjalankan tugasnya di bumi ini
harus mampu kembali pulang ke alamnya yaitu ke RHMN atau kembali ke Entitas
Rahman.
3. Petunjuk bagi Ksatria langit MNRH selama
di alam dunia ini adalah Huda atau koneksi internet. Ksatria langit adalah
cahaya. Cahaya adalah entitas dari entitas langit karena keberadaan cahaya
inilah yang membuat entitas di alam ini terlihat dan nyata. Begitu entitas
langit ini masuk ke raga, maka ada cahaya dalam diri raga ini yang membuat raga
ini tahu, membuat raga ini mendengar, melihat, juga merasakan, ada entitas yang
bekerja di telinga, mata dan hati. Ksatria langit ini akan berbentuk pas dengan
apapun yang raganya tempati. Entitas ini seperti pelita yang berasal dari
minyak zaitun yang siap dinyalakan untuk menerangi alam di sekitarnya. Entitas
ini semisal sang raga memiliki lampu senter yang menggunakan solar cell, atau
cahaya matahari. Bila siang hari maka tidak perlulah menyalakan lampu center
ini. Tetapi sayangnya sejak awal kita berasal di dalam ruang gelap atau ruang
ketidaktahuan sama sekali, ruang tanpa cahaya saat bayi, dan mulai terbuka
sedikit demi sedikit ada cahaya demi cahaya, namun ada yang tetap tertutup.
Tetapi dalam diri selalu ada lampu senter yang siap dinyalakan agar kita mampu
mencari jalan menuju jalan terang atau sumber cahaya. Kita bayangkan kita berada
dalam terowongan yang gelap total namun kita “seolah melihat dalam
angan-angan”, padahal kita tidak melihat yang sebenarnya. Kita perlu menyalakan
lampu senter kita untuk mencari jalan agar keluar ke tempat terbuka dimana ada
sinar matahari. Lampu Center inilah MNRH dan cahaya Matahari inilah seperti
RHMN.
Entitas langit (MNRH/minruhi) yang berada di dalam diri seumpama cahaya
mata, dengan mata inilah kita bias melihat dunia nyata asalkan ada cahaya di
luar yaitu bulan, matahari, bintang atau pelita. Entitas langit (RHMN/rahman)
yang berada di luar diri adalah semua yang ada di luar diri semisal cahaya
matahari. Bila ada cahaya matahari maka semua akan terlihat.
MNRH (minruhi) yang mampu terhubung dengan RHMN (rahman) adalah koneksi
yang kuat, terhubung dengan kuat. Sehingga mampu download program, download
peta, mendapat petunjuk.
Cahaya MN atau ruh MN adalah cahaya iMaN (MN) atau ruh (RH) iMaN atau RHMN.
Cahaya Iman yang berada di cahaya Rahman. MNRH yang pulang kembali ke RHMN,
seperti cahaya kecil berada di siang matahari. Selama berada di cahaya matahari
maka jelaslah semuanya. Semua nyata, jelas dan tampak.
Petunjuk cahaya Matahari inilah yang diperlukan untuk agar mampu berjalan,
mampu membangun, mampu melakukan tugas, bekerja, membangun dan apapun program
yang harus dilakukan. Dan juga mampu kembali pulang. Tetapi bila tetap berada
dalam kegelapan maka sulit sekali melakukan tugas dan juga sulit kembali
pulang.
Seolah sangat sulit menjelaskan ini, karena menjelaskan cahaya memang
sangat sulit, tetapi juga sangat sederhana. Sesederhana membuka mata atau
menyalakan api MNRH saat gelap. Dan bila saat siang hari dimana berlimpah RHMN
maka cahaya api kecil dalam diri ini memang tidak diperlukan.
Mengenali entitas “Cahaya langit” dalam diri ini sangat mudah, sedemikian
mudah dan sederhananya, tetapi juga sedemikian sulit dan luar biasanya. Sama
persis dengan mengenali cahaya matahari. Anak umur satu tahun bisa dan mampu
mengerti makna cahaya ini namun bisa disangkal oleh semua orang lain, dan juga
setiap tingkat selanjunya memahami cahaya, tingkat demi tingkat, sd, smp, sma,
kuliah dan lebih lanjut. Semakin mengenali cahaya dan semakin dalam dan
semangin mengerti. Semakin luas dia melihat alam dalam kesadarannya. Sampai
misalnya menjadi doctor Fisika yang mengenali cahaya. Apakah bedanya
pengetahuan anak satu tahun dengan Sang doktor Fisika itu saat berkata, aku
tahu cahaya itu.
Mengenali entitas sang aku, mengenali sang diri, mengenali diri sendiri
yang sebenarnya adalah mengenali entitas cahaya yang ada di dalam raga kita.
Entitas yang diturunkan dari AND dan untuk menjalankan tugas di bumi dan untuk
disempurnakan dan diminta pulang kembali ke AND lagi.
Apakah tugas utama ksatria langit atau MNRH ini, atau apakah Amanah (MNH)
yang dibebankan untuk MNRH ini, tugasnya adalah disempurnakan atau proses
menyempurnakan (Q) MN menjadi NM, atau menyempurnakan anam atau nikmat Allah.
Atau menyempurnakan nimat Allah. Inilah rencana (R) Allah, inilah Hukum Allah,
inilah program universal (R) dari Allah. Program untuk menyempurnakan (Q)
ini adalah program aplikasi yang diawal diistilahkan dengan N. Sehingga program
aplikasi untuk menyempurnakan ini adalah QRN atau Quran. Quran adalah program
aplikasi yang harus di download untuk menyempurnakan diri dan juga untuk mampu
kembali pulang. MNRH (minruhi) untuk kembali ke RHMN (rahman). Inilah proses
membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Membalik kesadaran kita melihat yang
gaib. Melihat Rahman.
Mata realitas kita melihat cahaya yang nyata yaitu MNRH, sedangkan entitas
langit melihat yang gaib yaitu RHMN. MNRH membalik RHMN.
Perumpamaan ini hanyalah perumpamaan, istilah dan istilah seperti saya
mengumpakan engkau berani seperti singa yang perkasa. Perumpamaan ini untuk
memudahkan atau menyerupakan, tetapi tidak ada satupun yang serupa. Maka
perumpamaan lambing inipun hanya untuk menyerupakan. Agar mau berfikir, agar
mau melihat secara lebih mudah.
Apakah sama seorang tuli dengan seorang yang mendengar?
Apakah sama seorang buta dengan seorang yang mampu melihat?
Apakah sama seorang yang berada di ruang yang gelap total dengan seorang
yang di bawah sinar matahari?
Apakah sama seorang yang hatinya terang benderang oleh cahaya dengan
seorang yang hatinya sempit, tertekan, gelap gulita, dengki, iri, marah kecewa
dan tanpa petunjuk?.
Memahami apa yang kutuliskan ini semudah anak satu tahun memahami cahaya
Tetapi bisa jadi lebih sulit dibanding seorang akhli alam memahami cahaya
Tetapi apapun itu tergantung kesadaran, maukah kita melihat alam semesta
ini?
Maukah berada dibawah cahaya matahari?
Salam