Minggu, 25 Juni 2017

Tilawah Al-Qur'an :)



Tilawah Al-Qur'an :)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8YPIeZjfe63cr8GHHWI-TK1XR3pWxqpvvZ4VLgByqQ-zlb2XALlBzK8cPP7DpwnWYuabvkglPMW6UcWc7WTSyfHPNsWOJrUdBUTc9Ui1qPHjEUVo8p3CNk2GQZLteJGZI-fcJuYvHgbS4/s400/tilawah.jpg
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi yang ada di dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)


“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab mereka senantiasa membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqut tilawah), mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya..” (QS. Al-Baqarah: 121)

Izinkan kali ini aku menyampaikan sebuah kisah, kisah ini sering diceritakan berulang-ulang, namun tidak ada salahnya jika kita membaca dan merenunginya kembali, mudah2an manfaat ^^

Dikisahkan, ada seorang muslim tua yang tinggal di sebuah perkebuanan di sebelah timur pegunungan bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca al-Qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan mencoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya  pada kakeknya: “Kakek, aku coba membaca al-Qur’an seperti kakek tapi aku tidak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa selesai membaca dan menutupnya, jadi apa gunanya membaca al-Qur’an jika tak memahami artinya?”

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu perapian, menjawab pertanyaan sang cucu: “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.“

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali.” Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjanganya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya. Kakeknya mengatakan: “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air,” “kamu harus mencoba lagi lebih keras”. Dan diapun pergi keluar menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tetapi dia menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah.

Anak itu kembali mengambil keranjanganya ke sungai dan kemudian berusah berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjanganya itu kosong lagi. Dengan terengah-engah ia berkata: “Kakek ini tidak ada gunanya, sia-sia saja.”

Sang kakek menjawab: “Nak, mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu.” Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang telah menjadi sebuah keranjang yang bersih luar dan dalam.

Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca al-Qur’an? Boleh jadi tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Alloh dalam mengubah kehidupan kamu.

^_^

Itulah hakekat dari sebuah tuntunan kenapa kita perlu membaca, memahami, mentadaburi, menghafalkan dan mengamalkan al-Qur’an. Karena dengan kelima langkah ini, diharapkan dapat menjadi pedoman dan arah kehidupan kita dalam merubah hidup kita menuju kebagaiaan, kesuksesan, dan kemuliaan dunia dan akhirat. Dengan membacanya saja Alloh dapat merubah hidup kita, apalagi dengan memahami, menghayati dan mentadaburi isinya serta menghafalkan dan mengamalkan tuntunan yang ada di dalm al-Qur’an? ^^

Wallohu’alam bisshowab.
Mudah2an manfaat.

Sumber Referensi: Buku Inspiratif karya Muslimah Thamrin, “Bahagia Sukses Mulia dengan Al-Qur’an”

Renungan Dakwah



Renungan Dakwah

Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah ruang kejujuran. Tempat yang paling nyaman untuk lari adalah lapangan pertaubatan. Layang-layang justru bisa terbang saat melawan angin. Jangan gentar saat memang harus menentang. Tetapi pastikan ada benang terhubungan pada-Nya.


Tiap orang hebat di kedudukan apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat menjadi menarik daripada menjuangkan apa yang diyakininya. Tiap ahli bidang apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat tunjukkan keahlian dibanding berkarya pada apa yang dicintainya. Tiap penyeru menuju jalan apa pun mulai bermasalah ketika terjebak pada kesibukan menanggapi saja, bukan bawakan gagasannya jadi amal.

Kata Al-Qur’an, tugas kita bukan jadi hakim, melainkan SAKSI yang baik agar kelak punya pembela saat jadi terdakwa di pengadilan-Nya. Setelah itu jadilah penyeru kebajikan. Kitalah penyala cahaya, bukan pengeluh gelap. Kita bawakan teladan sebelum mengenalkan. Maka, saat semua di sekitar terasa gelap dan sesak, curigalah bahwa kita ini yang dikirim Alloh sebagai cahaya tuk mereka. Berkilaulah!

Penyeru kebajikan percaya dan terpesona pada sekecil apa pun niat baik, bahkan yang masih malu. Tugas mereka menumbuhkannya. Para penyeru kebajikan terhubung ke langit dengan ibadahnya, menjadikan kerendahan hati sebagai penggenap bagi cantiknya kebenaran. Penyeru kebajikan ialah wujud rahmat-Nya; lembut hati dan pemaaf, memudahkan bukan mempersulit, membawa kabar gembira dan tak membuat lari.

Sederhana itu memperindah semua. Yang miskin jadi kaya. Yang kaya jadi mulia. Yang jelata dipercaya. Yang berkuasa dicinta. Tiap orang akan mati di atas apa yang dia biasakan hidup padanya. Maka sekecil apa pun kebaikan sangat berharga tuk diistiqomahkan. Kebenaran hanya cantik, bila bersanding dengan kerendahan hati. Kebaikan hanya manis, jika dibersamai ketulusan jiwa. Rasakanlah!

Pandai, tampan, shalih; itu memesona. Tetapi mengunjuk-unjukkan pada sesama bahwa kita pintar, rupawan, atau taat; pasti memuakkan. Berbahagialah dia yang berhasil sembunyikan ibadahnya dari mata manusia, tetapi mampu tampilkan bekas indahnya berupa akhlak mulia.

Tiap musibah telah diukur kadarnya; takkan lampaui apa yang bisa ditanggung. Jadi yang diuji-Nya bukan kemampuan, melainkan kemauan. Tiap penghalang di jalan kehidupan tertakdir ada untuk satu alasan sederhana: mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya.

Melihat spion itu perlu. Tetapi sesekali saja. Merenungi masa lalu itu niscaya. Tetapi jangan sampai ia membelenggu langkah maju kita. Sebab kita tak tahu ke mana takdir membawa, mari syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan dan upayakan yang terbaik. Mari kerjakan apa yang semestinya kita kerjakan. Sebab jika tidak, kita akan mendapat kesulitan yang semestinya tidak kita dapatkan.

Banyak hal tak kita minta, tapi ALloh tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Ikhlas tak selalu berarti ringan rasa hati kala melakukan. Yang berat itu jua keikhlasan, bahkan pahala sebanding kadar kepayahan. Yang ikhlas itu semurni susu; bergizi dan mudah dicerna. Jika tercampur kotoran dan darah; membuat muntah atau tertelan jadi penyakit.

Rasa, kata, dan laku yang ikhlas bagai susu; nikmat didengar dan dilihat, mudah dicerna jadi energi jiwa, menggerakkan amal sholih sesame. Sebaliknya; pikiran, ucapan, tulisan, dan tindakan, yang riya’ lagi kagum diri; ia memuakkan, dan jika tertelan menebar kefasikan. Ikhlas membuat syaitan tak sanggup hinggap, tak berdaya menggoda. Kesejatiannya rahasia, malaikat pencatat pun terhijab darinya.

Setiap nikmat membawa serta ujiannya. Ketamapanan Yusuf juga sepaket dengan iri saudara, perbudakan hina, goda wanita dan penjara. Setiap musibah seringnya juga jalan menuju kejayaan; di penjaralah Yusuf berjumpa rekan yang kelak merekomendasikannya pada Raja. Kekuasaan dipergilirkan, juga nasib kaum. Bani Israil di Mesir Berjaya bersama Yusuf; lalu Dinasti itu kalah; mereka diperbudak.

Niat-niat berkebajikan mendahului kita menghadap Alloh untuk mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya. Cinta dan kebersamaan dengan mereka yang mulia, mengantar kita ke kedudukan yang mungkin takkan dicapai hanya dengan amal pribadi. Betapa susah mencari sahabat sejati. Sulit, sebab yang kau cari sahabat yang memberi. Sahabat untuk diberi, ah, banyak sekali.

Bersalah itu manusiawi. Menyangkal kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, menjijikkan. Berbuat baik itu terpuji. Mengungkit-ungkit kebaikan; membuat risih. Menyuruh orang berterima kasih atas kebaikan kita; memalukan. Cara memperbesar kesalahan; dengan menganggapnya kecil. Cara memperbesar kebaikan; dengan menyembunyikannya dalam senyum Tuhan.

“Sesungguhnya orang-orang yang shalih dilipat-sangatkan bagi mereka ujiannya. Dan tidaklah menimpa seorang mukmin setusukan duri atau bahkan lebih ringan dari itu melainkan dihapus baginya kesalahannya dan ditinggikanlah derajatnya.” (Hadist Shahih Jami’us Shaghir No.1660)

Dan pesan Guru kami; Bacalah Al-Qur’an dengan menangis. Jika tak mampu, pura-puralah menangis. Lalu tangisilah kepura-puraanmu. Juga menghadirkan ke dalam hati nikmatnya surga (betapa belum layak kita) dan mengerikannya neraka (betapa dekat karena dosa)

Berbakti yang tak mudah; menyusuri getir di tiap langkah pengabdian; MENARI DI ATAS BATAS. Bergiat dalam makna mensyukuri; kemuliaan yang terjemput; BEKERJA MAKA KEAJAIBAN. Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi; YAKINLAH, DAN PEJAMKAN MATA. Menghayati ujian Ibrahim; lika-liku yusuf; tersuruknya Ayyub; berjayanya Sualaiman; pedih-pilunya Musa, Nuh dan Isa.

^_^

Mudah-mudahan manfaat. Wallohu’alambisshawab.
Diambil dari sebuah buku karya Ust. Salim A.Fillah: “Menyimak Kicau Merajut Makna”

SEBUAH RENUNGAN

SEBUAH RENUNGAN 
Seringkali kita merasa ujub, sombong dengan amal-amal yang kita lakukan. Kebaikan yang sedikit, sering kita bangga-banggakan. Dan seringkali amal yang kecil ini membuat kita merasa menjadi hamba yang paling hebat dibandingkan yang lain.

Ya Alloh, sungguh hamba memohon ampun atas setiap khilaf yang sering kami lakukan. Sebuah tulisan tentang refleksi atas apa yang kita lakukan, mudah-mudahan bermanfaat bagi sahabat semua..
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Satu hal yang harus senantiasa kita sadari adalah bahwa Alloh yang Maha Perkasa selalu menyaksikan segala gerak-gerik, perbuatan dan bahkan lintasan hati dan pikiran kita. Sungguh tak akan pernah ada satu pun yang luput dari pandangan-Nya di mana pun kita saat ini berada. Adakah saat sedang terbaring di kamar, menyelesaikan hajat di kamar mandi, sedang di perjalanan, di kelas, di bioskop; di mana pun.
Boleh saja berbuat semau kita karena toh yang lain tidak tahu. Akan tetapi, jangan lupa; di yaumil akhir kelak semuanya akan dibeberkan. Dibeberkan di depan khalayak; di depan orang tua, bahkan orang-orang yang selama ini kita ceramahi dengan untaian nasihat kebenaran. Kecuali, bagi orang-orang yang beroleh ampunan-Nya karena bertaubat dan merendah diri.
Mudah-mudahan kita semua benar-benar tergolong orang yang dikehendaki Alloh terhapus dan terbebaskan dari segala lumuran dosa dan nista. Sudah terlalu lama, bahkan hampir seluruh hidup ini, kita jalani dengan aneka gemilang kealpaan ketimbang ketaatan pada aturan-Nya. Sekiranya pun saat ini juga ajal menjemput, maka sebenarnya kita ini sudah sangat dekat dengan neraka. Hanya rahmat dan ampunan-Nyalah yang bisa menjauhkan kita daripadanya.
Alloh sudah berjanji, bahwa kendatipun kita sangat banyak berbuat dosa, bahkan sampai meliputi dunia berikut isinya sekalipun, namun sekiranya Dia saksikan di hati kita ada sebesar dzarrah saja keinginan untuk kembali kepada-Nya, niscaya ampunan dan kasih sayang-Nya yang amat mengesankan akan melesat menghampiri, bahkan lebih cepat daripada burung yang menukik.
Dunia ini, masya Alloh, sungguh terlalu singkat ternyata. Bukan di sinilah tempat kita yang sebenarnya. Tempat yang fana ini tak lebih sekadar untuk singgah belaka.
Oleh sebab itu, barangsiapa yang selama singgah sejenak di dunia ini berjuang sekuat-kuatnya untuk senantiasa memelihara ketaatan kepada-Nya, maka bolehlah memetik apa yang pernah Dia janjikat, dan janji Alloh itu mustahil Dia ingkari!
Alloh Azza wa Jalla berjanji bagi hamba-hambanya:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Alloh tahu persis akan segala kebutuhan, keinginan, bahkan segala yang terbaik bagi kita. Sedangkan Dia adalah satu-satunya Dzat Penguasa alam semesta. Karenanya, bagaimana mungkin Dia enggan mengurus, memberi, dan mencukupi kita, sedangkan orang kafir yang dihinakan saja dicukupi segala kebutuhannya?
Subhanalloh, kasih sayang Alloh kepada hamba-hambanya memang sangat indah dan mengesankan. Walaupun Dia menyaksikan jelas aneka kemaksiatan yang kita lakukan setiap saat, namun toh Dia tetap mencurahkan segala nikmat yang tiada terputus setiap saat.
Alloh Maha Tahu bahwa mata kita jarang sekali dipakai untuk membaca Al-Qur’an. Bahkan sebaliknya, kita biarkan mata ini liar tak terpelihara dan tak terjaga.  Segala yang maksiat, segala yang haram dilihat, kita tatap serakus-rakusnya. Padahal, sementara itu Malaikat terus mencatat dan Alloh tak pernah sedetikpun luput melihat. Akan tetapi, toh ternyata kedua mata ini tidak dicongkel-Nya, padahal mudah sekali bagi-Nya untuk membutakan mata kita yang kufur nikmat ini.
Alloh Maha Tahu kalau telinga ini begitu banyak diisi oleh sagala hal yang sia-sia. Music-musik yang syairnya sarat maksiat dan melalaikan hati dari mengingat-Nya. Kata-kata aniaya, kotor, dan tiada guna. Ucapan-ucapan penuh gunjingan, fitnah, dan ghibah. Semuanya kita lalap, habis tandas. Sepertinya telinga ini adalah hewan yang kelaparan. Dan dia tahu persis semua ini. Akan tetapi, Subhanalloh, Dia toh tidak menjadikan telinga bebal ini menjadi tuli seketika.
Demikian pun dengan anggota badan kita yang lainnya. Kaki yang seharusnya dilangkahkan ke majelis yang diberkahi Alloh. tangan yang seharusnya digunakan untuk menolong sesama yang teraniaya. Belum lagi akal pikiran yang berisi ilmu dari-Nya, yang seharusnya diamalkan bagi kemaslahatan sesama. Atau, bahkan hati yang seharusnya dirawat kebeningannya agar bisa menjadi jalan ketentraman dan kebahagiaan orang lain.
Alloh senantiasa menanti kita untuk bertaubat dan kembali menjadi hamba-Nya. Bahkan dituntun-Nya kita untuk sudi menyimak kebenar-kebenaran dari-Nya. Bila siang tiba Dia menebar para kekasih-Nya, para penolong agama-Nya untuk menghampiri dan menyeru kita yang tengah terpuruk dalam lorong kemaksiatan dan lumpur hawa nafsu. Seolah mereka berkata penuh kelembutan dan kasih sayang. “Wahai saudara-saudaraku. Kemarilah, inilah jalan Alloh yang akan memberimu ketentraman dan kebahagiaan lahir bathin, dunia akhirat.
Demikian pun bila malam tiba, di sepertiga akhir malam Alloh yang Maha Rahman membukakan pintu langit seluas-luasnya. Para Malaikat rahmat pun turun ke bumi. Alloh pun membuka tangan-Nya lebar-lebar, senantiasa menanti siapapun dengan dosa sebesar apa pun, untuk bertaubat.
Sungguh, kasih sayang Alloh memang sangat mempesona. Walaupun Dia menyaksikan begitu alama kita tidak bersujud kepada-Nya, bahkan kalaupun sholat, tetapi toh tidak pernah khusyuk. Kendati begitu, toh kepala ini tidak Dia patahkan; kening ini tidak Dia remukkan.
Malahan sebaliknya, diberi-Nya kita makanan yang cukup, pakaian yang indah, badan yang sempurna dan segar bugar, yang lalu malah kita gunakan semua ini untuk ujub dan takabur. Dengan segala kelebihan yang dimiliki, lalu kita pamerkan dan pertontonkan kepad ayang bukan hak untuk melihatnya.
Padahal, sekali lagi, apa sulitnya bagi Alloh membalikkan semua keadaan ini. Meremukkan tulang-tulang kita, membuat kulit tubuh kita membusuk karena penyakit, menjadikan tubuh ini lumpuh tiada berdaya, atau bahkan mencabut nyawa kita seketika. Apalah daya kita!
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yunus: 107)
Wahai manusia, tidakkah sadar, siapa kita ini sebenarnya?
Alhamdulillah, Ya Robb. Segala puji sungguh teramat pantas bagi-Mu karena kesempurnaan kasih sayang-Mu benar-benar begitu mengesankan. Walaupun Engkau kami khianati setiap saat, namun toh masih Kau curahkan segala nikmat. Bahkan Kau bukakan pintu hati kami. Lalu, Engkau tuntun kami dengan cahaya hidayah dan taufik-Mu agar kami mampu mengenal-Mu. Padahal, apalah artinya kami ini bagi-Mu? Sungguh hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. Amiin ya Robbal ’alamiin..

Muhasabah Akhir Tahun

Seringkali kita merasa ujub, sombong dengan amal-amal yang kita lakukan. Kebaikan yang sedikit, sering kita bangga-banggakan. Dan seringkali amal yang kecil ini membuat kita merasa menjadi hamba yang paling hebat dibandingkan yang lain.

Ya Alloh, sungguh hamba memohon ampun atas setiap khilaf yang sering kami lakukan. Sebuah tulisan tentang refleksi atas apa yang kita lakukan, mudah-mudahan bermanfaat bagi sahabat semua..
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Satu hal yang harus senantiasa kita sadari adalah bahwa Alloh yang Maha Perkasa selalu menyaksikan segala gerak-gerik, perbuatan dan bahkan lintasan hati dan pikiran kita. Sungguh tak akan pernah ada satu pun yang luput dari pandangan-Nya di mana pun kita saat ini berada. Adakah saat sedang terbaring di kamar, menyelesaikan hajat di kamar mandi, sedang di perjalanan, di kelas, di bioskop; di mana pun.
Boleh saja berbuat semau kita karena toh yang lain tidak tahu. Akan tetapi, jangan lupa; di yaumil akhir kelak semuanya akan dibeberkan. Dibeberkan di depan khalayak; di depan orang tua, bahkan orang-orang yang selama ini kita ceramahi dengan untaian nasihat kebenaran. Kecuali, bagi orang-orang yang beroleh ampunan-Nya karena bertaubat dan merendah diri.
Mudah-mudahan kita semua benar-benar tergolong orang yang dikehendaki Alloh terhapus dan terbebaskan dari segala lumuran dosa dan nista. Sudah terlalu lama, bahkan hampir seluruh hidup ini, kita jalani dengan aneka gemilang kealpaan ketimbang ketaatan pada aturan-Nya. Sekiranya pun saat ini juga ajal menjemput, maka sebenarnya kita ini sudah sangat dekat dengan neraka. Hanya rahmat dan ampunan-Nyalah yang bisa menjauhkan kita daripadanya.
Alloh sudah berjanji, bahwa kendatipun kita sangat banyak berbuat dosa, bahkan sampai meliputi dunia berikut isinya sekalipun, namun sekiranya Dia saksikan di hati kita ada sebesar dzarrah saja keinginan untuk kembali kepada-Nya, niscaya ampunan dan kasih sayang-Nya yang amat mengesankan akan melesat menghampiri, bahkan lebih cepat daripada burung yang menukik.
Dunia ini, masya Alloh, sungguh terlalu singkat ternyata. Bukan di sinilah tempat kita yang sebenarnya. Tempat yang fana ini tak lebih sekadar untuk singgah belaka.
Oleh sebab itu, barangsiapa yang selama singgah sejenak di dunia ini berjuang sekuat-kuatnya untuk senantiasa memelihara ketaatan kepada-Nya, maka bolehlah memetik apa yang pernah Dia janjikat, dan janji Alloh itu mustahil Dia ingkari!
Alloh Azza wa Jalla berjanji bagi hamba-hambanya:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Alloh tahu persis akan segala kebutuhan, keinginan, bahkan segala yang terbaik bagi kita. Sedangkan Dia adalah satu-satunya Dzat Penguasa alam semesta. Karenanya, bagaimana mungkin Dia enggan mengurus, memberi, dan mencukupi kita, sedangkan orang kafir yang dihinakan saja dicukupi segala kebutuhannya?
Subhanalloh, kasih sayang Alloh kepada hamba-hambanya memang sangat indah dan mengesankan. Walaupun Dia menyaksikan jelas aneka kemaksiatan yang kita lakukan setiap saat, namun toh Dia tetap mencurahkan segala nikmat yang tiada terputus setiap saat.
Alloh Maha Tahu bahwa mata kita jarang sekali dipakai untuk membaca Al-Qur’an. Bahkan sebaliknya, kita biarkan mata ini liar tak terpelihara dan tak terjaga.  Segala yang maksiat, segala yang haram dilihat, kita tatap serakus-rakusnya. Padahal, sementara itu Malaikat terus mencatat dan Alloh tak pernah sedetikpun luput melihat. Akan tetapi, toh ternyata kedua mata ini tidak dicongkel-Nya, padahal mudah sekali bagi-Nya untuk membutakan mata kita yang kufur nikmat ini.
Alloh Maha Tahu kalau telinga ini begitu banyak diisi oleh sagala hal yang sia-sia. Music-musik yang syairnya sarat maksiat dan melalaikan hati dari mengingat-Nya. Kata-kata aniaya, kotor, dan tiada guna. Ucapan-ucapan penuh gunjingan, fitnah, dan ghibah. Semuanya kita lalap, habis tandas. Sepertinya telinga ini adalah hewan yang kelaparan. Dan dia tahu persis semua ini. Akan tetapi, Subhanalloh, Dia toh tidak menjadikan telinga bebal ini menjadi tuli seketika.
Demikian pun dengan anggota badan kita yang lainnya. Kaki yang seharusnya dilangkahkan ke majelis yang diberkahi Alloh. tangan yang seharusnya digunakan untuk menolong sesama yang teraniaya. Belum lagi akal pikiran yang berisi ilmu dari-Nya, yang seharusnya diamalkan bagi kemaslahatan sesama. Atau, bahkan hati yang seharusnya dirawat kebeningannya agar bisa menjadi jalan ketentraman dan kebahagiaan orang lain.
Alloh senantiasa menanti kita untuk bertaubat dan kembali menjadi hamba-Nya. Bahkan dituntun-Nya kita untuk sudi menyimak kebenar-kebenaran dari-Nya. Bila siang tiba Dia menebar para kekasih-Nya, para penolong agama-Nya untuk menghampiri dan menyeru kita yang tengah terpuruk dalam lorong kemaksiatan dan lumpur hawa nafsu. Seolah mereka berkata penuh kelembutan dan kasih sayang. “Wahai saudara-saudaraku. Kemarilah, inilah jalan Alloh yang akan memberimu ketentraman dan kebahagiaan lahir bathin, dunia akhirat.
Demikian pun bila malam tiba, di sepertiga akhir malam Alloh yang Maha Rahman membukakan pintu langit seluas-luasnya. Para Malaikat rahmat pun turun ke bumi. Alloh pun membuka tangan-Nya lebar-lebar, senantiasa menanti siapapun dengan dosa sebesar apa pun, untuk bertaubat.
Sungguh, kasih sayang Alloh memang sangat mempesona. Walaupun Dia menyaksikan begitu alama kita tidak bersujud kepada-Nya, bahkan kalaupun sholat, tetapi toh tidak pernah khusyuk. Kendati begitu, toh kepala ini tidak Dia patahkan; kening ini tidak Dia remukkan.
Malahan sebaliknya, diberi-Nya kita makanan yang cukup, pakaian yang indah, badan yang sempurna dan segar bugar, yang lalu malah kita gunakan semua ini untuk ujub dan takabur. Dengan segala kelebihan yang dimiliki, lalu kita pamerkan dan pertontonkan kepad ayang bukan hak untuk melihatnya.
Padahal, sekali lagi, apa sulitnya bagi Alloh membalikkan semua keadaan ini. Meremukkan tulang-tulang kita, membuat kulit tubuh kita membusuk karena penyakit, menjadikan tubuh ini lumpuh tiada berdaya, atau bahkan mencabut nyawa kita seketika. Apalah daya kita!
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yunus: 107)
Wahai manusia, tidakkah sadar, siapa kita ini sebenarnya?
Alhamdulillah, Ya Robb. Segala puji sungguh teramat pantas bagi-Mu karena kesempurnaan kasih sayang-Mu benar-benar begitu mengesankan. Walaupun Engkau kami khianati setiap saat, namun toh masih Kau curahkan segala nikmat. Bahkan Kau bukakan pintu hati kami. Lalu, Engkau tuntun kami dengan cahaya hidayah dan taufik-Mu agar kami mampu mengenal-Mu. Padahal, apalah artinya kami ini bagi-Mu? Sungguh hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. Amiin ya Robbal ’alamiin..

Alloh Yang Maha Tepat Tindakannya


Taujih ini disampaikan oleh Aa Gym di Masjid Daarut Tauhid Bandung. Mudah-mudahan Alloh mengaruniakan hidayah kepada kita semua.

Apa sih yang disebut karunia? Apa karunia itu yang menurut kita: sehat, kaya, punya rumah mewah, dan hal keduniawian lainnya? Ternyata menurut Alloh, karunia itu bisa berbentuk apa saja, jika kita semakin dekat ke Alloh maka itu karunia.
Jika kita sakit, namun sakit bisa semakin dekat ke Alloh maka itu salah satu karunia. Ternyata ketika kita sakit, kita semakin sadar bahwa betapa lemah diri kita tanpa pertolongan Alloh, betapa lemah diri kita jika tidak bersandar kepada Alloh yang Maha Memiliki segalanya.
Ada salah satu doa yang diajarkan Alloh kepada Ashabul kahfi, yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat ke-10: “Robbana atina milladunka rohmah wahayyiklana min amrina rosyada.” “Ya Alloh Ya Tuhan Kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."
Doa tersebut adalah doa yang sangat mujarab untuk menenangkan hati. Ketika kita banyak masalah, ketika hati kita tidak tenang, bacalah doa ini dengan penuh penghayatan, insya Alloh hati akan lebih tenang.
Kita sadar, kita makhluk yang lemah, tidak ada daya dan upaya kecuali datangnya dari Alloh. Kita boleh berencana, tapi Alloh juga punya rencana. Dan sebaik-baik rencana adalah rencana Alloh. Dialah yang Maha Tahu kebutuhan kita. Seharusnya kita selalu bersyukur atas karunia yang Alloh berikan, dan bersabar ketika kita belum mendapatkannya. Mungkin ada takdir Alloh yang lain yang lebih baik.
Lahaula wala quwata illa billahil aliyul azim. Tidak ada daya dan upaya kecuali datangnya dari Alloh yang Maha Agung.
Hasbiyalloh wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasir. Cukuplah Alloh bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung.
Ya Alloh karuniakan kami keyakinan yang kokoh atas keMaha Kuasa-Mu, aamiin.