Renungan Dakwah
Tempat
paling aman untuk bersembunyi adalah ruang kejujuran. Tempat yang paling nyaman
untuk lari adalah lapangan pertaubatan. Layang-layang justru bisa terbang saat melawan
angin. Jangan gentar saat memang harus menentang. Tetapi pastikan ada benang
terhubungan pada-Nya.
Tiap orang
hebat di kedudukan apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat menjadi
menarik daripada menjuangkan apa yang diyakininya. Tiap ahli bidang apa pun
mulai bermasalah saat lebih berhasrat tunjukkan keahlian dibanding berkarya
pada apa yang dicintainya. Tiap penyeru menuju jalan apa pun mulai bermasalah
ketika terjebak pada kesibukan menanggapi saja, bukan bawakan gagasannya jadi
amal.
Kata
Al-Qur’an, tugas kita bukan jadi hakim, melainkan SAKSI yang baik agar kelak
punya pembela saat jadi terdakwa di pengadilan-Nya. Setelah itu jadilah penyeru
kebajikan. Kitalah penyala cahaya, bukan pengeluh gelap. Kita bawakan teladan
sebelum mengenalkan. Maka, saat semua di sekitar terasa gelap dan sesak,
curigalah bahwa kita ini yang dikirim Alloh sebagai cahaya tuk mereka.
Berkilaulah!
Penyeru
kebajikan percaya dan terpesona pada sekecil apa pun niat baik, bahkan yang
masih malu. Tugas mereka menumbuhkannya. Para penyeru kebajikan terhubung ke
langit dengan ibadahnya, menjadikan kerendahan hati sebagai penggenap bagi
cantiknya kebenaran. Penyeru kebajikan ialah wujud rahmat-Nya; lembut hati dan
pemaaf, memudahkan bukan mempersulit, membawa kabar gembira dan tak membuat
lari.
Sederhana
itu memperindah semua. Yang miskin jadi kaya. Yang kaya jadi mulia. Yang jelata
dipercaya. Yang berkuasa dicinta. Tiap orang akan mati di atas apa yang dia
biasakan hidup padanya. Maka sekecil apa pun kebaikan sangat berharga tuk
diistiqomahkan. Kebenaran hanya cantik, bila bersanding dengan kerendahan hati.
Kebaikan hanya manis, jika dibersamai ketulusan jiwa. Rasakanlah!
Pandai,
tampan, shalih; itu memesona. Tetapi mengunjuk-unjukkan pada sesama bahwa kita
pintar, rupawan, atau taat; pasti memuakkan. Berbahagialah dia yang berhasil
sembunyikan ibadahnya dari mata manusia, tetapi mampu tampilkan bekas indahnya
berupa akhlak mulia.
Tiap musibah
telah diukur kadarnya; takkan lampaui apa yang bisa ditanggung. Jadi yang
diuji-Nya bukan kemampuan, melainkan kemauan. Tiap penghalang di jalan
kehidupan tertakdir ada untuk satu alasan sederhana: mengetahui sebesar apa
tekad kita untuk melampauinya.
Melihat
spion itu perlu. Tetapi sesekali saja. Merenungi masa lalu itu niscaya. Tetapi
jangan sampai ia membelenggu langkah maju kita. Sebab kita tak tahu ke mana
takdir membawa, mari syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan dan upayakan
yang terbaik. Mari kerjakan apa yang semestinya kita kerjakan. Sebab jika
tidak, kita akan mendapat kesulitan yang semestinya tidak kita dapatkan.
Banyak hal
tak kita minta, tapi ALloh tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita
mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Ikhlas tak selalu berarti ringan
rasa hati kala melakukan. Yang berat itu jua keikhlasan, bahkan pahala
sebanding kadar kepayahan. Yang ikhlas itu semurni susu; bergizi dan mudah
dicerna. Jika tercampur kotoran dan darah; membuat muntah atau tertelan jadi
penyakit.
Rasa, kata,
dan laku yang ikhlas bagai susu; nikmat didengar dan dilihat, mudah dicerna
jadi energi jiwa, menggerakkan amal sholih sesame. Sebaliknya; pikiran, ucapan,
tulisan, dan tindakan, yang riya’ lagi kagum diri; ia memuakkan, dan jika
tertelan menebar kefasikan. Ikhlas membuat syaitan tak sanggup hinggap, tak
berdaya menggoda. Kesejatiannya rahasia, malaikat pencatat pun terhijab
darinya.
Setiap
nikmat membawa serta ujiannya. Ketamapanan Yusuf juga sepaket dengan iri
saudara, perbudakan hina, goda wanita dan penjara. Setiap musibah seringnya
juga jalan menuju kejayaan; di penjaralah Yusuf berjumpa rekan yang kelak
merekomendasikannya pada Raja. Kekuasaan dipergilirkan, juga nasib kaum. Bani
Israil di Mesir Berjaya bersama Yusuf; lalu Dinasti itu kalah; mereka
diperbudak.
Niat-niat
berkebajikan mendahului kita menghadap Alloh untuk mengetuk pintu-pintu karunia
yang memampukan kita mewujudkannya. Cinta dan kebersamaan dengan mereka yang
mulia, mengantar kita ke kedudukan yang mungkin takkan dicapai hanya dengan
amal pribadi. Betapa susah mencari sahabat sejati. Sulit, sebab yang kau cari
sahabat yang memberi. Sahabat untuk diberi, ah, banyak sekali.
Bersalah itu
manusiawi. Menyangkal kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan
kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan orang lain atas kesalahan
kita, menjijikkan. Berbuat baik itu terpuji. Mengungkit-ungkit kebaikan;
membuat risih. Menyuruh orang berterima kasih atas kebaikan kita; memalukan.
Cara memperbesar kesalahan; dengan menganggapnya kecil. Cara memperbesar
kebaikan; dengan menyembunyikannya dalam senyum Tuhan.
“Sesungguhnya
orang-orang yang shalih dilipat-sangatkan bagi mereka ujiannya. Dan tidaklah
menimpa seorang mukmin setusukan duri atau bahkan lebih ringan dari itu
melainkan dihapus baginya kesalahannya dan ditinggikanlah derajatnya.” (Hadist
Shahih Jami’us Shaghir No.1660)
Dan pesan
Guru kami; Bacalah Al-Qur’an dengan menangis. Jika tak mampu, pura-puralah
menangis. Lalu tangisilah kepura-puraanmu. Juga menghadirkan ke dalam hati nikmatnya
surga (betapa belum layak kita) dan mengerikannya neraka (betapa dekat karena
dosa)
Berbakti
yang tak mudah; menyusuri getir di tiap langkah pengabdian; MENARI DI ATAS
BATAS. Bergiat dalam makna mensyukuri; kemuliaan yang terjemput; BEKERJA MAKA
KEAJAIBAN. Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu
muncul di awal pagi; YAKINLAH, DAN PEJAMKAN MATA. Menghayati ujian Ibrahim;
lika-liku yusuf; tersuruknya Ayyub; berjayanya Sualaiman; pedih-pilunya Musa,
Nuh dan Isa.
^_^
Mudah-mudahan
manfaat. Wallohu’alambisshawab.
Diambil dari
sebuah buku karya Ust. Salim A.Fillah: “Menyimak Kicau Merajut Makna”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar