Wahai diri
yang masih gelisah.
Wahai diri yang dadanya masih keras membatu.
Wahai diri yang otaknya masih galau.
Wahai diri yang dadanya masih keras membatu.
Wahai diri yang otaknya masih galau.
Diri yang
telah berbilang tahun terkungkung dalam kepompong nafs.
Diri yang dari puasa ke puasa gagal bermetamorfosis menjadi Ar ruh.
Diri yang tahunan telah gagal berubah menjadi kupu-kupu akhirat.
Kupu-kupu yang mampu bercengkrama dengan para malaikat.
Kupu-kupu yang nyanyiannya “sami’na wa atha’na, kudengar dan kuta’ati…”.
Kupu-kupu yang menebarkan keriangan.
Kupu-kupu yang menyebarkan keindahan.
Kupu-kupu yang mengalirkan Rahmat Bagi Semesta Alam.
Diri yang dari puasa ke puasa gagal bermetamorfosis menjadi Ar ruh.
Diri yang tahunan telah gagal berubah menjadi kupu-kupu akhirat.
Kupu-kupu yang mampu bercengkrama dengan para malaikat.
Kupu-kupu yang nyanyiannya “sami’na wa atha’na, kudengar dan kuta’ati…”.
Kupu-kupu yang menebarkan keriangan.
Kupu-kupu yang menyebarkan keindahan.
Kupu-kupu yang mengalirkan Rahmat Bagi Semesta Alam.
Namun apalah
daya…
Tatkala tubuh islamnya baru mulai menggeliat,
Kealpaannya telah membekapnya kembali…
Tatkala sayap imannya baru mulai tumbuh,
Kelengahannya telah mematahkannya kembali…
Tatkala dada ihsannya baru mulai merekah,
keangkuhannya telah menguncupkannya kembali…
Tatkala tubuh islamnya baru mulai menggeliat,
Kealpaannya telah membekapnya kembali…
Tatkala sayap imannya baru mulai tumbuh,
Kelengahannya telah mematahkannya kembali…
Tatkala dada ihsannya baru mulai merekah,
keangkuhannya telah menguncupkannya kembali…
Wahai diri
yang kegelisahannya kembali membahana dengan deras.
Kegelisahan yang tak berujung seperti dulu-dulu.
Kegelisahan yang tak berujung seperti dulu-dulu.
Janganlah
khawatir…
Selalu ada harapan…
Secarcah peluang masih membayang lembut didepan mata kita.
Setitik kesadaran masih menyapa relung hati kita.
Bahwa Allah masih tetap bersama kita.
Janganlah takut…
Karena Allah masih tetap Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Selalu ada harapan…
Secarcah peluang masih membayang lembut didepan mata kita.
Setitik kesadaran masih menyapa relung hati kita.
Bahwa Allah masih tetap bersama kita.
Janganlah takut…
Karena Allah masih tetap Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Mari kita
lepas ramadhan ini dengan rela.
Mari kita retas kembali keinginan kita dari sekarang.
Untuk menyelesaikan metamormosis kita yang tertunda.
Untuk menjadi kupu-kupu akhirat di malam 1000 bulan mendatang.
——
Mari kita retas kembali keinginan kita dari sekarang.
Untuk menyelesaikan metamormosis kita yang tertunda.
Untuk menjadi kupu-kupu akhirat di malam 1000 bulan mendatang.
——
Juga….
Wahai diri yang pandangannya mulai tercekam.
Tercekamlah dengan hebat.
Tercekamlah….
Wahai diri yang dadanya mulai bergetar.
Tergetarlah dengan dahsyat.
Tergetarlah…
Wahai diri yang kulitnya mulai merinding.
Merindinglah dengan hebat.
Merindinglah…
Sebab itu adalah pertanda…
Bahwa Allah tengah merespon kita.
Allah tengah berkenan memandang kita dengan lembut.
Allah tengah berkenan menyapa kita dalam sunyi.
—-
Wahai diri yang pandangannya mulai tercekam.
Tercekamlah dengan hebat.
Tercekamlah….
Wahai diri yang dadanya mulai bergetar.
Tergetarlah dengan dahsyat.
Tergetarlah…
Wahai diri yang kulitnya mulai merinding.
Merindinglah dengan hebat.
Merindinglah…
Sebab itu adalah pertanda…
Bahwa Allah tengah merespon kita.
Allah tengah berkenan memandang kita dengan lembut.
Allah tengah berkenan menyapa kita dalam sunyi.
—-
Pula…
Wahai jiwa yang talinu…
Wahai diri yang dadanya menghening.
Mengheninglah…
Diamlah…
Sabarlah…
Wahai diri yang kulitnya melembut.
Melembutlah…
Meluruhlah…
Mengurailah…
Sebab itu adalah pertanda…
Bahwa diri kita mulai bermetamorfosis.
Sayap-sayap iman kita mulai tumbuh.
Tubuh islam kita mulai membentuk.
Dada Ihsan kita mulai merekah.
Diri kita siap untuk bermetamorfosis
Menjadi kupu-kupu bercitrakan syurgawi.
—–
Wahai jiwa yang talinu…
Wahai diri yang dadanya menghening.
Mengheninglah…
Diamlah…
Sabarlah…
Wahai diri yang kulitnya melembut.
Melembutlah…
Meluruhlah…
Mengurailah…
Sebab itu adalah pertanda…
Bahwa diri kita mulai bermetamorfosis.
Sayap-sayap iman kita mulai tumbuh.
Tubuh islam kita mulai membentuk.
Dada Ihsan kita mulai merekah.
Diri kita siap untuk bermetamorfosis
Menjadi kupu-kupu bercitrakan syurgawi.
—–
Berikutnya…
Wahai diri yang muthmainnah
Wahai diri pepadang.
Wahai diri yang kulitnya pepadang.
Wahai diri yang dadanya pepadang.
Wahai diri yang otaknya pepadang.
Wahai diri yang pandangannya pepadang.
Wahai diri yang pendengarannya pepadang.
Wahai diri yang perasaannya pepadang.
Wahai Ar ruh…
Mendekatlah kepada Sang Maha Meliputi.
Tuduklah kepada Sang Maha Meliputi.
Rukuklah kepada Sang Maha Meliputi.
Sujudlah kepada Sang Maha Meliputi.
Wahai diri yang muthmainnah
Wahai diri pepadang.
Wahai diri yang kulitnya pepadang.
Wahai diri yang dadanya pepadang.
Wahai diri yang otaknya pepadang.
Wahai diri yang pandangannya pepadang.
Wahai diri yang pendengarannya pepadang.
Wahai diri yang perasaannya pepadang.
Wahai Ar ruh…
Mendekatlah kepada Sang Maha Meliputi.
Tuduklah kepada Sang Maha Meliputi.
Rukuklah kepada Sang Maha Meliputi.
Sujudlah kepada Sang Maha Meliputi.
Sebab itu
adalah sebuah pertanda…
Bahwa Sang Maha Meliputi siap menyapa kita,
Alastu birabbikum…, bukankah Aku ini Tuhanmu ?.
Innani Analllah…, Aku adalah Allah…
Laa ilaaha illa ana…, tiada Tuhan lain selain Aku…
Fa’budni…, mengabdilah pada-Ku…
Aqimish shalati lidzikri…, shalatlah untuk mengingat Aku…
Bahwa Sang Maha Meliputi siap menyapa kita,
Alastu birabbikum…, bukankah Aku ini Tuhanmu ?.
Innani Analllah…, Aku adalah Allah…
Laa ilaaha illa ana…, tiada Tuhan lain selain Aku…
Fa’budni…, mengabdilah pada-Ku…
Aqimish shalati lidzikri…, shalatlah untuk mengingat Aku…
Bahwa kita
siap pula balas menyapa,
Wahai Wujud Sang Maha Meliputi…
Bala syahida…, benarlah hamba bersaksi…
Laa ilaaha illa anta…, Tiada Tuhan selain Paduka…
Anta Allah…, Benar Padukalah Allahku…,
Anta Rabbi…, Benar Padukalah Tuhanku…,
Anta Waliyyam Mursyida…, Benar Padukalah Pelindung dan Pemberi Petunjukku…,
Wahai Wujud Sang Maha Meliputi…
Bala syahida…, benarlah hamba bersaksi…
Laa ilaaha illa anta…, Tiada Tuhan selain Paduka…
Anta Allah…, Benar Padukalah Allahku…,
Anta Rabbi…, Benar Padukalah Tuhanku…,
Anta Waliyyam Mursyida…, Benar Padukalah Pelindung dan Pemberi Petunjukku…,
Wa ana
abduka…
Sedang hamba hanyalah sekedar abdi yang diliputi…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang dilindungi…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang ditunjuki…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang diajari…
Sedang hamba hanyalah sekedar abdi yang diliputi…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang dilindungi…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang ditunjuki…
Hamba hanyalah sekedar abdi yang diajari…
Wa ana
abduka…
Hamba hanyalah sekedar pesuruh yang dialiri daya dan getaran…
Untuk siap dengan tulus menghamba…
Untuk siap dengan riang mengada…
Untuk siap dengan semangat berkarya…
Untuk siap menebar daya dan getaran sukacita milik Paduka…
Hamba hanyalah sekedar pesuruh yang dialiri daya dan getaran…
Untuk siap dengan tulus menghamba…
Untuk siap dengan riang mengada…
Untuk siap dengan semangat berkarya…
Untuk siap menebar daya dan getaran sukacita milik Paduka…
Wa ana
abduka…
Hamba hanyalah sekedar perukuk yang luruh dalam Wujud Maha Meliputi…
Hamba hanyalah sekedar pesujud yang terurai dalam Wujud Maha Meliputi…
Hamba hanyalah sekedar perukuk yang luruh dalam Wujud Maha Meliputi…
Hamba hanyalah sekedar pesujud yang terurai dalam Wujud Maha Meliputi…
Laa ilaaha
illa anta…, wa ana abduka…
Ah… selalu
saja ada harapan,
Untuk menapak jejak-jejak destiny kita masing-masing.
Untuk menapak jejak-jejak destiny kita masing-masing.
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar