Membaca Buku tanpa Huruf
1. Membaca buku tanpa huruf
Ketika rengkuhan sayap perkasamu, menerbangkanku melintas awan menuju negeri impian
biarlah kupejamkan mata, bersandar pada percayaku
pabila angin dingin tengah menusuki kulit, kurapatkan hati dan kubenamkan dalam keteduhan matamu
sedih yang kadang mengusik karena sebuah ketidakpastian, apakah yang akan menghadang nanti?
mungkin angin beliung yang menghempas, ataukah petir yang menghanguskan
biarlah tetap saja kurebahkan hatiku pada sayapmu, kutidur dalam kidung lembut yang melenakan
yang selalu kau senandungkan sepanjang perjalanan, berayun dalam kelembutan sebuah harapan, hari esok nan penuh kebahagian, menyongsong manis madunya cinta kasih sepanjang masa
wahai dikau sang pengharap cinta
masihkah ada sayap-sayap cinta yang akan merengkuhmu, pabila ada dan nyata di hadapanmu
peluklah dalam rengkuhan yang terdalam, karena mungkin ini adalah sayap terakhir
yang akan membawamu ke negeri harapan
ingatlah selalu, lembutkan hatimu, lidahmu dan matamu
dalam senyum dan bisik teduh yang menyenangkan, dalam saling genggam kepercayaan
menuju satu cinta dan harapan
bersama
Dalam kasih sayang Tuhan semesta alam
Pelajaran demi pelajaran, seolah sulit dan rumit, namun akan menjadi mudah dan simple
dan mengendap menjadi sebuah fitrah, atau
sebuah kewajaran. Itulah sebabnya mungkin sebaiknya belajar Al Quran
itu sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan memaknai, memahami, meresapi.
Yang mengajar Al Quran itu Allah, yang menempatkan Al Quran di hati kita adalah Allah. Kita memahami Al Quran sebatas pemahaman saat ini. Al Quran itu akan selalu up to date sampai hari kiamat. Banyak yang diketahui dahulu tapi saat ini jauh lebih banyak lagi, demikian pula yang diketahui saat ini mungkin nanti akan jauh lebih banyak lagi.
Mampukah kita membaca yang tersirat di dalam yang tersurat?
Bisakah kita membaca ruh yang terkadung di dalam Al Quran dan alam semesta (hukum alam?)
Membaca sebuah kitab terbuka namun tak berhuruf dan tak bersusun sebagaimana layaknya buku
Bagaimana kita?.
Kita hanyalah seorang biasa, mungkin mempunyai kesempatan membaca Al Quran saja sebuah karunia, memiliki iman adalah sebuah karunia, mempunyai kesadaran bahwa Allah bersama kita adalah karunia, memiliki Islam adalah karunia. Semua adalah kesempatan dalam sebuah kemungkinan
Bagaimana kita?.
Kita hanyalah seorang biasa, mungkin mempunyai kesempatan membaca Al Quran saja sebuah karunia, memiliki iman adalah sebuah karunia, mempunyai kesadaran bahwa Allah bersama kita adalah karunia, memiliki Islam adalah karunia. Semua adalah kesempatan dalam sebuah kemungkinan
Semua untuk kita dan demi kita, untuk kepentingan kita di saat ini.
Bukan hanya di hari nanti. Di akherat adalah hak mutlak Allah, mau
diapakan kita, hanya terserah kepadaNya. Kita mau mengaku beriman,
mengaku beribadah atau mengaku apapun,
Dia lebih tahu kita itu bagaimana. Maka seluruh ajaran agama (dalam
kitab tanpa huruf, kitab alam) adalah untuk hidup kita selama di dunia,
mampu menggunakan seluruh ajaran agama untuk diri kita di saat ini.
Mampu bersyukur atas apapun yang telah kita dapatkan. Mampu merasakan
sebuah keberuntungan telah diberi kesempatan untuk hidup di saat ini.
Kita bersyukur diberi kesadaran, coba bayangkan saat akan tidur, ada apa saat tidur, tidak ada kesedihan, tidak ada sakit, tidak ada gembira, tidak ada apa-apa, tidak mampu melihat atau merasakan apapun. Dimana kita?.
Bersyukur kita selalu dibangkitkan untuk mampu merasakan kehadiran sang Pencipta.
Ketika kita buka mata, semua yang dihamparkan di depan mata kita yang seolah biasa
adalah sebuah kejadian yang luar biasa, sebuah maha karya yang teramat hebat,
kesempurnaan yang teramat sangat, langit telah ditinggikan tanpa retak sedikitpun.
Matahari telah digantung dan beredar pada tempatnya. Bulan yang selalu setia, bintang-bintang yang bercahaya.
Tumbuhan dan bunga-bunga yang warna-warni. Begitu banyak keindahan demi keindahan.
Adakah usaha kita, semua sudah ada dan disajikan dalam keindahan bentuk yang sempurna.
Adakah usaha kita, semua sudah ada dan disajikan dalam keindahan bentuk yang sempurna.
Lihatlah manusia, betapa cantik dan gagahnya. Betapa sempurna.
Lihatlah bintanang, penuh keindahan. Lihat bintang ternak dan binatang peliharaan.
Tiada henti dan tak henti memuji, memuja, kesempurnaan.
Tiada henti dan tak henti memuji, memuja, kesempurnaan.
Setiap mata melihat disini secara sadar “melihat” Allah, melihat dalam kesempurnaan ciptaanNya,
menyadari keindahan ciptaan.
Lihat diri kita,
terganggu sedikit saja, betapa payah dan sakit yang kita rasakan.
Tak terkirakan.
Betapa rumit susunan tubuh kita, terganggu sedikit saja,
sudah payah kita menahan derita.
Siapa yang begitu setia “menjaga:” tubuh kita.
Kita hanya berusaha sedikit saja, namun seluruh organ fital kita bekerja otomatis,
jantung, paru-paru, ginjal, otak, sel-sel syaraf dan banyak sekali organ
di dalam tubuh kita yang bekerja otomatis.
Siapa yang memperkerjakan itu.
Betapa sering kita protes atas kekurangan sedikit tapi lupa akan hal-hal yang prinsip.
Betapa sering kita protes atas kekurangan sedikit tapi lupa akan hal-hal yang prinsip.
Kalau Dia telah begitu sayang kepada kita.
Mempersiapkan segala yang terhampar di alam semesta ini untuk kepentingan kita, apakah hanya untuk menghukum kita.
Rasanya tidak mungkin.
Kasih sayangnya jauh melebihi siksaNya.
Kasih sayangnya jauh melebihi siksaNya.
KemurahanNya melampaui kemarahanNya.
Kita hanya perlu merelakan jiwa kita.
Mengakui seluruh kelemahan diri kita
menghadapkan diri kita apa adanya
sederhana dan mudah
menyerah dan mengakui
tidak merendah dengan maksud berbangga atau suci
tapi betul-betul dalam kerendahan hati yang sesungguhnya
mengakui diri kita apa adanya
bukan sombong karena merasa mampu begini dan begitu di hadapanNya
mampu beribadah mampu beramal shaleh
mampu ini dan mampu itu
namun melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri
sebagai bukti rasa syukur kepadaNya
yang telah memberikan segala yang nampak
melakukan seluruh ini sebagai sebuah kewajaran
seorang hamba sahaya kepada tuannya
sebagai bagian dari tugas
tanpa terpaksa
Kita hanya perlu merelakan jiwa kita.
Mengakui seluruh kelemahan diri kita
menghadapkan diri kita apa adanya
sederhana dan mudah
menyerah dan mengakui
tidak merendah dengan maksud berbangga atau suci
tapi betul-betul dalam kerendahan hati yang sesungguhnya
mengakui diri kita apa adanya
bukan sombong karena merasa mampu begini dan begitu di hadapanNya
mampu beribadah mampu beramal shaleh
mampu ini dan mampu itu
namun melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri
sebagai bukti rasa syukur kepadaNya
yang telah memberikan segala yang nampak
melakukan seluruh ini sebagai sebuah kewajaran
seorang hamba sahaya kepada tuannya
sebagai bagian dari tugas
tanpa terpaksa
ikhlas tanpa merasa ber-ikhlas
menyerahkan apapun sepenuhnya kepadaNya
tanpa kesombongan sedikitpun
mau jadi apa saja yang dikehendakiNya
seperti sebuah pensil yang digenggang,
digerakkan kemanapun hanya ikut dan tunduk
Mulai menyadari kondisi saat ini
apa yang telah terjadi itu karena telah diijinkan olehNya untuk terjadi
inilah takdir
janganlah kita menyesal dan marah atas takdir yang telah terjadi
janganlah kita mengajari Allah akan takdir yang diinginkan
jangan mendikte apa yang akan Allah kerjakan
tapi mari kita ikuti saja seperti penonton
yang aktif dalam aturan main
ikut menangis dan tertawa dalam sandiwara
ikut bahagia dan berduka
takdir yang telah digariskan
hanya perlu diikuti
mari amati terus maka kita akan tahu
diri kita dan arahnya akan kemana
kita hanya mampu memohon dan memohon
agar diberi peran yang baik
agar diberi kemudahan memainkan peran
namun Dialah yang menentukan akhir peran kita
maka jadilah peran saat ini
ketika saat ini kita tengah dalam peran yang baik
berbuatlah peran sebaik mungkin di saat ini
mumpung kesempatan untuk itu masih ada
Kita tidak tahu seperti apa di hari akhir di akherat nanti,
namun ada sebuah permisalan sederhana
kalau kita mampu merasakan ridho Allah di dunia
kita mampu merasakan syurga Allah selama di dunia
kita mampu “bertemu” Allah di dunia
kita telah merasakan kebahagiaan sejati
telah merasakan dunia, tidak sia-sia kita merasakan dan hidup di dunia
sebagaimana ketika sayidina Ali menjawab ketika ditanyakan
bagaimana kalau di akherat tidak ada surga dan neraka?.
Yaitu telah merasakan kebahagiaan hidup di dunia
kalau di akherat tidak apa-apa ya tidak ada kerugian sedikitpun
namun kalau ada maka sungguh kasihan orang yang melalaikannya
maka dalam agama yang terutama adalah
membentuk manusia yang sempurna selama di dunia
merasakan kebahagiaan hidup di dunia
telah ridho dengan Islam
telah ridho dengan Muhammad sebagai tuntunan
telah ridho dengan Allah sebagai Tuhan
telah dipenuhi rasa syukur diatas rasa syukur
atas apapun yang terjadi pada dirinya
maka telah mampu disebut sebagai hamba Allah.
apakah kita telah mampu begini?.
mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri
hanya kita yang menjawab dan tentu Allah yang tahu.
janganlah terpaku pada hukuman dan sanksi dari Allah saja
itu hanya sebagian kecil saja dan terutama bagi yang masih awal
bagi yang sudah tahu adalah bagaimana memahami
maksud penciptaan kita dan maksud keberadaan kita di dunia
mengapa kita diadakan disini?.
apakah yang sudah kita berikan dan tunjukkan kepada yang mengadakan kita
dengan menggelar seluruh keindahan alam semesta ini?.
Mari kita sama-sama tafakur alam semesta.
menyerahkan apapun sepenuhnya kepadaNya
tanpa kesombongan sedikitpun
mau jadi apa saja yang dikehendakiNya
seperti sebuah pensil yang digenggang,
digerakkan kemanapun hanya ikut dan tunduk
Mulai menyadari kondisi saat ini
apa yang telah terjadi itu karena telah diijinkan olehNya untuk terjadi
inilah takdir
janganlah kita menyesal dan marah atas takdir yang telah terjadi
janganlah kita mengajari Allah akan takdir yang diinginkan
jangan mendikte apa yang akan Allah kerjakan
tapi mari kita ikuti saja seperti penonton
yang aktif dalam aturan main
ikut menangis dan tertawa dalam sandiwara
ikut bahagia dan berduka
takdir yang telah digariskan
hanya perlu diikuti
mari amati terus maka kita akan tahu
diri kita dan arahnya akan kemana
kita hanya mampu memohon dan memohon
agar diberi peran yang baik
agar diberi kemudahan memainkan peran
namun Dialah yang menentukan akhir peran kita
maka jadilah peran saat ini
ketika saat ini kita tengah dalam peran yang baik
berbuatlah peran sebaik mungkin di saat ini
mumpung kesempatan untuk itu masih ada
Kita tidak tahu seperti apa di hari akhir di akherat nanti,
namun ada sebuah permisalan sederhana
kalau kita mampu merasakan ridho Allah di dunia
kita mampu merasakan syurga Allah selama di dunia
kita mampu “bertemu” Allah di dunia
kita telah merasakan kebahagiaan sejati
telah merasakan dunia, tidak sia-sia kita merasakan dan hidup di dunia
sebagaimana ketika sayidina Ali menjawab ketika ditanyakan
bagaimana kalau di akherat tidak ada surga dan neraka?.
Yaitu telah merasakan kebahagiaan hidup di dunia
kalau di akherat tidak apa-apa ya tidak ada kerugian sedikitpun
namun kalau ada maka sungguh kasihan orang yang melalaikannya
maka dalam agama yang terutama adalah
membentuk manusia yang sempurna selama di dunia
merasakan kebahagiaan hidup di dunia
telah ridho dengan Islam
telah ridho dengan Muhammad sebagai tuntunan
telah ridho dengan Allah sebagai Tuhan
telah dipenuhi rasa syukur diatas rasa syukur
atas apapun yang terjadi pada dirinya
maka telah mampu disebut sebagai hamba Allah.
apakah kita telah mampu begini?.
mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri
hanya kita yang menjawab dan tentu Allah yang tahu.
janganlah terpaku pada hukuman dan sanksi dari Allah saja
itu hanya sebagian kecil saja dan terutama bagi yang masih awal
bagi yang sudah tahu adalah bagaimana memahami
maksud penciptaan kita dan maksud keberadaan kita di dunia
mengapa kita diadakan disini?.
apakah yang sudah kita berikan dan tunjukkan kepada yang mengadakan kita
dengan menggelar seluruh keindahan alam semesta ini?.
Mari kita sama-sama tafakur alam semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar