ANTARA
KETENANGAN JIWA, KEDAMAIAN HATI DAN SEBUAH KEBENARAN
Pada zaman
ini, banyak permasalahan yang dihadapi setiap manusia -dan secara khusus kaum
Muslimin-, baik berkaitan dengan masalah lahir, batin, ataupun kejiwaan. Dari
sini, muncullah berbagai ragam usaha untuk mengatasi problematika hidupnya.
Tujuan utamanya, pada dasarnya hanya satu, yaitu; mendapatkan kepuasan hati,
ketenteraman hidup, dan ketenangan jiwa.
Yang amat disayangkan,
munculnya anggapan keliru karena ketidakpahaman atau karena belum mengerti,
bahwa tidak semua hal yang mampu mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup dan
ketenangan jiwa menunjukkan kebenaran sesuatu tersebut. Ya, kita bisa katakan,
benar, memang sesuatu tersebut dapat mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup
dan ketenangan jiwa. Namun permasalahannya, apakah semua hal yang bisa
mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa bisa dibenarkan
secara syar’i? Jadi, yang dimaksud “benar” disini adalah, benar secara tinjauan
dan hukum syar’i. Jika tidak demikian, kita akan menemukan betapa banyak
praktek-praktek yang memang telah terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati,
ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa orang. Sebagai contoh, sebutlah
bersemedhi, bertapa, atau meditasi, atau terapi psikologis lainnya. Hal-hal
tersebut memang terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup
dan ketenangan jiwa orang yang melakukannya [1]. Namun, apakah syariat Islam
yang mulia dan sempurna ini membenarkannya? Atau minimal mengizinkannya? Atau;
apakah kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa tersebut -jika
memang terjadi- adalah hakiki dan abadi? Inilah permasalahannya.
Al Imam al
‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Adapun di bawah derajat orang ini
(yakni orang yang merasakan kelezatan dengan mengenal Allah dan bertaqarrub
denganNya), maka sangatlah banyak, dan tidak bisa menghitung banyaknya kecuali
Allah. Bahkan, sampai pada derajat orang (yang masih bisa merasakan kelezatan
dengan) melakukan hal-hal yang sangat hina, hal-hal yang kotor dan menjijikan,
baik berupa perkataan maupun perbuatan…”.[2]
Perkataan
beliau ini menjelaskan, ternyata ada hal-hal yang memang terbukti mampu
mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa orang yang
melakukannya, namun, tentu sangat berbeda derajat orang yang merasakan kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa dengan cara bertaqarrub dan taat
kepada Allah, dengan orang yang mencapainya tetapi dengan cara bermaksiat dan
meninggalkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Permasalahan
ini, persis dengan seseorang yang mencari kesembuhan dari penyakit kronis yang
dideritanya, sementara para dokter telah angkat tangan dari penyakitnya
tersebut, lalu akhirnya, orang ini berobat ke dukun, kemudian sembuh. Maka,
apakah kesembuhannya bisa ia jadikan dalil atas bolehnya berobat atau
mendatangi dukun? Apakah kesembuhan yang ia dapati -dengan izin Allah Subhanahu
wa Ta’ala – menunjukkan bahwa dukun tersebut berada di atas al haq (baca :
kebenaran)? Apakah kesembuhannya itu berasal dari cara yang dibenarkan oleh
syariat? [3]
Sebagai
seorang muslim -yang mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa
memberikan taufiqNya- kita tentu tidak boleh ragu dan syak, bahwa kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa adalah salah satu sifat syariat
Islam yang mulia dan sempurna ini. Itupun, harus dilakukan sesuai dengan
tuntunan syariat yang benar dalam beribadah. Yaitu, ikhlash hanya untuk Allah l
semata, dan mutaba’atur rasul (mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang telah banyak diterangkan oleh para ulama
tentang masalah ini.[4]
Dari sekilas
penjelasan di atas, kita bisa pahami, bahwa merupakan kekeliruan jika ada seseorang
yang berkata “Segala sesuatu yang bisa mendatangkan dan menimbulkan kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, maka hal itu boleh-boleh saja
dilakukan, karena hal itu merupakan indikasi kebenaran sesuatu tersebut”.
Di manakah
letak kekeliruan perkataan ini? Kita katakan : “Memang, salah satu bukti
benarnya sesuatu hal adalah timbulnya kepuasan hati, ketenteraman hidup dan
ketenangan jiwa pada si pelakunya. Dan ini merupakan salah satu sifat syariat
Islam jika dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat yang benar dalam beribadah,
sebagaimana telah diterangkan di atas. Namun, tidak semua yang bisa
mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan
jiwa sebagai sebuah kebenaran”.
Seandainya
orang itu hanya berkata “Segala sesuatu yang bisa mendatangkan dan menimbulkan
kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa boleh-boleh saja
dilakukan,” hanya sampai disini saja, mungkin masih bisa kita benarkan. Itupun
selama perbuatan tersebut tidak melanggar syariat. Karena segala sesuatu yang
dilakukan, selama tidak berhubungan dengan permasalahan ibadah, dan selama
tidak ada dalil yang melarangnya, maka hukum asalnya adalah boleh, sebagaimana
telah diterangkan oleh para ulama dalam masalah ini.[5]
Permasalahannya,
jika kita perhatikan dan pelajari secara lebih dalam, hal-hal yang bisa
mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan
jiwa yang banyak digemari orang saat ini, pada kenyataannya tidak mungkin dapat
dipisahkan dari praktek ibadah, bahkan sangat berkaitan erat dengan masalah
aqidah yang letaknya di dalam hati, sedangkan hati merupakan sumber dari
kebaikan atau keburukan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
…أَلاَ
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْـغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ،
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ .
“…Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia (segumpal
daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia (segumpal
daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.
Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”.[6]
Oleh karena
itu, jika ingin selamat dari hal-hal yang dapat merusak agama kita, bahkan
dalam hal aqidah, hendaknya seorang muslim senantiasa berhati-hati dan waspada,
serta penuh pertimbangan demi keselamatan agamanya, dan bertanya, apakah
perbuatan yang hendak dilakukan untuk pencarian kepuasan hati, ketenteraman
hidup dan ketenangan jiwanya bertentangan dengan aqidah? Ataukah bagaimana?
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Karena hati itu diciptakan untuk
diketahui kegunaannya, maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah
(dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”. [7]
Berkaitan
erat dengan permasalahan ini, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memberikan solusi bagi setiap muslim yang senantiasa ingin mendapatkan kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki dan abadi. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ
آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. [ar Ra’d/13
: 28].
Asy Syaikh
Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr -hafizhahullah- berkata,”……
Sesungguhnya al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan di
dalam kitab beliau yang sangat berharga, al Wabil ash Shayyib sebanyak tujuh
puluh sekian faidah dzikir. Dan di sini, kami akan sempurnakan untuk
menyebutkan beberapa faidah dzikir lainnya, dari sekian banyak faidah yang
telah beliau sebutkan di dalam kitabnya. Di antara faidah-faidah dzikir yang
begitu agung, yaitu (dzikir) dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan
kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan
ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah…,”
dan asy Syaikh membawakan ayat ke-28 surat ar Ra’d di atas.
Kemudian
beliau kembali menjelaskan dan berkata,”Makna firman Allah (وَتَطْمَئِنُّ
قُلُوبُهُم) adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan
dan kegundahan dari dalam hati, dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan
rasa keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan. Dan maksud
firmanNya (أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) adalah sudah nyata,
dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman,
kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan,
sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki. Dzikir merupakan makanan
pokok bagi hati dan ruh. Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka
ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan
pokoknya. Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan
dengan dzikrullah (mengingat Allah). Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah berkata [9] : “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi seekor ikan. Maka,
bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dengan air?”[10]
Dari
penjelasan yang begitu gamblang di atas, jelaslah sesungguhnya tidak ada
penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah,
melainkan hanya dengan dzikrullah.
Dzikrullah
dapat dilakukan dengan dua cara, dengan mengingat Allah dan banyak berdzikir
dengan bertasbih, bertahmid, bertahlil (mengucapkan Laa ilaha illallaah),
ataupun bertakbir. Dan dengan memahami makna-makna al Qur`an dan
hukum-hukumnya; karena di dalam al Qur`an terdapat dalil-dalil dan
petunjuk-petunjuk yang jelas, serta bukti kebenaran yang nyata.[11]
Namun, yang
amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami hal ini.
Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan
jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya. Padahal kepuasan hati, ketenteraman
hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan melainkan
hanya dengan dzikrullah.
Al Imam al
‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “…Sesungguhnya, hati tidak akan
(merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya
berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan melakukan ketaatan
kepadaNya)… sehingga, barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya,
rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
maka ia telah mendapatkan kenikmatan dariNya, kelezatan dariNya, kemuliaan
dariNya, dan kebahagiaan dariNya untuk selama-lamanya”. [12]
Penjelasan
beliau ini, juga menujukkan pemahaman, bahwa jika seseorang meninggalkan
ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau bahkan bermaksiat kepadaNya,
maka hatinya akan sempit, gersang, selalu gelisah, resah, dan gundah [13].
Adapun kemaksiatan yang terbesar adalah syirik, dan Allah tidak akan mengampuni
orang yang berbuat syirik sampai ia bertaubat sebelum ia mati. (Lihat an
Nisaa`/4 : 48 dan 116). Juga Allah berfirman:
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan
barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam
keadaan buta”. [Thaha/20 : 124].
Salah satu
penafsiran ulama tentang lafazh (مَعِيشَةً ضَنكاً) pada surat Thaha ayat ke-124
di atas adalah, kehidupan yang sangat sempit dan menyulitkan di dunia ini,
disebabkan berpalingnya ia dari kitabullah dan dzikrullah. Ia akan merasakan
kesempitan, kegelisahan, dan kepedihan-kepedihan lainnya dalam kehidupannya, dan
itu adalah adzab secara umum.[14]
Adapun kadar
kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa seseorang, itu sangat
bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al
Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Kelezatan (yang
dirasakan oleh hati) setiap orang, bergantung pada sejauh mana keinginannya
dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan (keinginannya
dalam meraih) kemuliaan dirinya. Orang yang paling mulia jiwanya, yang paling
tinggi derajatnya dalam merasakan kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang yang
paling) mengenal Allah, yang paling mencintai Allah, yang paling rindu dengan
perjumpaan denganNya, dan yang paling (kuat) mendekatkan dirinya kepadaNya
dengan segala hal yang dicintai dan diridhai olehNya”. [15]
Itulah
dzikrullah dan tha’atullah, sebagai kunci utama untuk membuka hati seseorang
dalam merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya.
Sedangkan tingkatan tha’atullah yang paling tinggi dan agung adalah tauhidullah
(mentauhidkan Allah). Dan (sebaliknya), tingkatan maksiat yang paling besar
dosanya dan paling buruk akibatnya, adalah asy syirku billah (menyekutukan
Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dengan kata lain, orang yang paling berbahagia,
tenteram, dan tenang jiwanya adalah seorang muslim yang bertauhid dan
merealisasikan tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang
paling sengsara hidupnya di dunia ini, dan tidak merasakan kebahagiaan,
ketenangan, dan ketenteraman jiwa yang hakiki dan abadi, adalah orang yang
musyrik dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala [15].
Kemudian,
adakah hal lainnya setelah dzikrullah dan tha’atullah yang secara khusus mampu
mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa seseorang? Jawabnya,
ada. Yaitu shalat.
Hendaknya
seorang mukmin menyibukkan dirinya untuk meraih kepuasan hati, ketenteraman
hidup dan ketenangan jiwanya dengan melakukan shalat secara benar dan khusyu’.
Dengan demikian, ia merasa tenang ketika berhadapan dengan Rabb-nya. Hatinya
menjadi tenteram, lalu diikuti ketenangan dan ketenteraman tersebut oleh
seluruh anggota tubuhnya. Dari sini, ia akan merasakan kedamaian hati dan
ketenangan jiwa yang luar biasa. Dia memuji Rabb dengan segala macam pujian di
dalam shalatnya. Bahkan, ia berkata kepada Rabb-nya إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ (hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami
mohon pertolongan). Dia memohon kepada Rabb-nya segala kebutuhannya. Dan yang
terpenting dari seluruh kebutuhannya adalah memohon untuk istiqamah (konsisten)
di atas jalan yang lurus. Yang dengannya terwujudlah kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Dia pun berkata اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (Tunjukilah kami
jalan yang lurus). Dia mengagungkan Rabb-nya saat ruku’ dan sujud, dan
memperbanyak doa di dalam sujudnya.
Betapa indah
dan agungnya komunikasi yang ia lakukan dengan Rabb-nya. Sebuah komunikasi yang
sangat luar biasa, mampu menumbuhkan ketenteraman dan kedamaian jiwa, sekaligus
menjauhkan dirinya dari segala macam kegelisahan, keresahan, dan kesempitan
hati dan jiwanya. Maka, tidak perlu heran, jika shalat ini merupakan penghibur
dan penghias hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
… وَجُعِلَتْ
قُـرَّةُ عَـيْـنِيْ فِي الصَّـلاَةِ .
“…dan telah
dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat”.[17]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkata kepada salah satu sahabatnya:
قُمْ يَا
بِلاَلُ، فَـأَرِحْـنَا بِالصَّلاَةِ .
“Bangunlah
wahai Bilal, buatlah kami beristirahat dengan (melakukan) shalat”.[18]
Al Imam al
‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah, setelah menjelaskan hikmah-hikmah dan
beberapa keistimewaan shalat, beliau berkata : “… Kemudian, disyariatkan
baginya untuk mengulang-ulang raka’at ini satu per satu, sebagaimana
disyariatkannya mengulang-ulang (lafazh) dzikir dan doa satu per satu. Hal itu
agar ia mempersiapkan dirinya dengan raka’at yang pertama tadi, untuk
menyempurnakan raka’at yang berikutnya. Sebagaimana raka’at yang kedua untuk
menyempurnakan raka’at yang pertama. Semuanya itu bertujuan untuk memenuhi
hatinya dengan makanan (rohani) ini, dan mengambil bekal darinya untuk
mengobati penyakit yang ada dalam hatinya. Karena sesungguhnya kedudukan shalat
terhadap hati, bagaikan kedudukan makanan dan obat terhadapnya… Maka, tidak ada
satu pun yang mampu menjadi makanan dan bagi hatinya, selain shalat ini.
Maksudnya, (fungsi) shalat dalam menyehatkan dan menyembuhkan hati, seperti
(fungsi) makanan pokok dan obat-obatan terhadap badannya”.[19]
Dr. Hasan
bin Ahmad bin Hasan al Fakki berkata,”Tatkala shalat dijadikan sebagai
pembangkit ketenangan dan ketenteraman (jiwa), serta sebagai terapi psikologis,
maka, tidak mengherankan jika sebagian dokter jiwa menganggapnya sebagai terapi
utama dalam penyembuhan para pasien penyakit jiwa. Salah seorang di antara
mereka ada yang mengatakan, sepertinya shalat ini salah satu terapi yang mampu
mendatangkan kehangatan jiwa manusia. Sesungguhnya shalat bisa menjauhkan
dirimu dari segala kesibukan yang membuatmu gundah dan resah. Shalat ini pun
mampu membuatmu merasa tidak menyendiri dalam hidup ini. Mampu membuatmu
merasakan bahwa Allah menyertaimu. Shalat pun ternyata mampu memberimu kekuatan
dalam bekerja, yang sebelumnya dirimu tidak mampu berbuat apa-apa. Maka,
pergilah ke kamar tidurmu! Lalu, mulailah melakukan shalat untuk menghadap
Rabb-mu”.[20]
Demikianlah,
sehingga memang shalat yang benar dan khusyu’, pasti akan melahirkan
ketenteraman jiwa dan kedamaian hati. Bukan seperti shalat yang dilakukan oleh
orang-orang Nashrani, yang telah disifatkan oleh al Imam al ‘Allamah Ibnul
Qayyim rahimahullah sebagai sebuah shalat yang pembukaannya adalah kenajisan,
takbiratul ihramnya dengan bersalib di wajah, qiblatnya sebelah timur,
syi’arnya adalah kesyirikan, (maka) bagaimana hal ini tersembunyi bagi orang
berakal, bahwa hal ini sesuatu yang memang tidak pernah dibenarkan oleh satu
syariat manapun? [21]
Dr. Hasan
bin Ahmad bin Hasan al Fakki kembali menjelaskan : “Adapun sebuah shalat yang
permulaannya adalah pengagungan dan pemuliaan terhadap Allah Subhanahu wa
Ta’ala, dan shalat ini mengandung firmanNya, pujian dan pengagungan kepadaNya,
rasa tunduk yang sempurna si pelakunya kepada Rabbnya, maka tidak ragu lagi,
shalat seperti inilah yang mampu menjadi perantara seorang hamba dalam
berkomunikasi dengan Rabb-nya. Shalatnya ini bermanfaat baginya untuk memohon
kepada Rabb agar (Dia) membebaskan dari segala kesulitan. Di samping itu, ia
pun akan mendapatkan manfaat dan pahala yang besar di akhirat, serta kemenangan
dengan mendapatkan ridha ar Rahman (Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dan kiaskanlah
terhadap shalat ini seluruh ketaatan hamba terhadap Rabb-nya. Sungguh agama
Islam adalah sebuah manhaj (metode, tata cara dan pola hidup) yang sempurna,
yang sangat adil. Menjamin setiap orang bisa mencapai hidup bahagia di dunia
dan akhirat. Dan ini sebagai sebuah kemenangan yang besar”.[22]
Demikianlah,
mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, bisa menambah iman, ilmu,
dan amal shalih kita. Wallahu a’lam bish shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar