KEBERANIAN DALAM KETAKUTAN
Keberanian dalam Ketakutan. Rasa takut atau Ketakutan merupakan suatu kondisi
alamiah yang tumbuh dan berkembang dalam diri setiap makhluk termasuk manusia. Rasa takut tersebut merupakan bukti dari
kasih sayang Allah swt kepada makhluk ciptaannya-Nya untuk melindungi
dirinya dari bahaya yang mungkin akan mencelakai serta dengan rasa takut
tersebut akan memberikan pengalaman baru bagi makhluk yang mengalaminya. Apabila dalam diri sesorang manusia sudah
tidak ada lagi rasa takut, itu salah satu pertanda dari perkembangan
fisikologis yang yang tidak seimbang dalam diri manusia itu. Sehingga
rasa takut tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu parameter dalam menguji
kesehatan jiwa seseorang secara fisikologis
Dengan adanya rasa
takut tersebut, manusia
dibimbing oleh Sang Khalik untuk bersikap dan bertindak hati-hati secara wajar
dalam megarungi kehidupannya. Namun demikian sebagaimana halnya dengan berani atau keberanian, rasa takut yang tumbuh secara berlebihan pada
seseorang ternyata bukan lagi merupakan sebuah proteksi dari kehati-hatian,
tapi lebih bersifat beban dan penghalang seseorang untuk meraih sesuatu
keberhasilan. Keberanian yang terlalu
berlebihan akan sama maknanya dengan Nekat yang lawannya adalah Penakut.
Tidak ada seorang pun manusia yang diciptakan Allah
swt sebagai makhluk yang penakut.
Rasa takut yang berlebihan
tersebut kebanyakan merupakan sebuah kondisi
yang tidak sengaja ditularkan oleh orang-orang disekeliling kita dalam
waktu yang lama pada masa lalu dan terus berulang pada setiap kondisi dan
keadaan yang lain, sehingga akumulasi
dari ketertularan rasa takut dari masa lalu itu telah membentuk sebuah
penghukuman terhadap diri kita sendiri dengan secara mengatakan bahwa saya
adalah seorang yang penakut.
Dengan bermodal julukan sebagai seorang yang penakut
tersebut, kita telah berhasil membatasi
diri kita untuk hanya terlibat dalam hal-hal yang tidak membuat kita takut,
sementara orang-orang yang telah berhasil mengesampingkan rasa takutnya terus
terlibat dalam hal-hal yang menyenangkan dan terus berbuat menjemput
keberhasilan. Seorang pahlawan tidak
diciptakan tanpa rasa takut, tapi seorang pahlawan terlahir setelah berhasil
mengesampingkan rasa takutnya dan berbuat sebagaimana layaknya seorang yang
tidak mempunyai rasa takut sampai dia dikatakan sebagai seorang pemberani.
Adalah mustahil untuk membuat diri kita yang sudah
terlanjur senang dengan julukan sebagai seorang penakut menjadi seorang
pemberani, namun bersikap seolah-olah
diri kita sebagai seorang pemberani akan mampu memberikan pengalaman
bahwa ternyata terlalu banyak potensi
yang ada dalam diri kita yang selama ini telah terbatasi oleh rasa takut itu.
Selanjutnya dengan mempertahankan sikap layaknya seorang pemberani, secara
pelahan-lahan akan timbul suatu kesadaran kalau ternyata kita bukan seorang
yang penakut.
Senangkan dan bahagiakanlah
diri anda dan keluarga anda dengan tampil sebagai seorang yang menularkan
keberanian kepada mereka. Jangan pernah mengembangkan rasa takut pada jiwa
mereka, terutama pada anak-anak yang masih polos. Sesungguhnya seorang anak yang
baru dilahirkan itu dalam keadaan putih bersih ibarat kertas putih yang masih
kosong. Tanpa sedikit pun coretan tinta yang melekat padanya. Sebagai orang
tua, tugas kitalah yang pertama menggoreskan warna apa yang kita inginkan pada
kertas itu dan mau seperti apa anak tersebut kelak. Semua terserah kita
Apabila digores dengan tinta keberanian, maka
tumbuhlah anak tersebut menjadi seorang anak pemberani dan apabila dogores dengan terlalu banyak
pembatasan-pembatasan yang menghambat tumbuh dan berkembangnya sebuah
keberanian dalam diri anak, maka berarti
kita telah berhasil menularkan rasa takut yang ada dalam diri kita kepada anak
dan menciptakan seorang anak yang jauh dari sifat keberanian.
Apabila seorang ibu di depan anaknya tidak mampu
menyembunyikan rasa takutnya terhadap serangga misalnya, secara langsung telah menularkan rasa takut
tersebut terhadap anaknya, tapi apabila seorang ibu yang bersikap
seolah-olah berani dan membunuh atau mengusir serangga tersebut di depan
anaknya setidak-tidaknya dia telah berhasil melaksanakan dua hal penting pada saat itu yaitu bersikap sebagaimana layaknya seorang yang
berani sampai dia benar-benar berani dan secara langsung telah berhasil menularkan sebuah keberanian kepada
anaknya.
Dengan sedikit modal keberanian untuk mengesampingkan
rasa takut yang ada pada hakikatnya kta telah mengundang sebuah keberanian yang
lebih besar untuk mengabaikan semua rasa takut lain yang telah memenjarakan
kita dalam pembatasan-pembatasan yang sebetulnya tidak perlu. Rahmat dan Kasih
Sayang Allah swt tidak akan datang menghampiri orang yang selalu membatasi
dirinya dengan ketakutan, tapi Rahmat
dan Kasih sayang itu lebih banyak diberikan kepada orang-orang yang senantiasa
terus berjuang meraih kemuliaan dirinya sampai pada akhirnya kemuliaan itu
melekat dalam jiwanya. Jadilah dia orang yang mulia dengan kemuliaan Allah swt.
Takut menghadapi sebuah
resiko yang belum tentu akan datang, telah melahirkan banyak orang-orang putus asa dan
menyengsarakan dirinya dengan penyesalan dan rasa iri atas keberhasilan yang
diraih oleh orang lain yang pada awalnya orang tersebut sama penakutnya dengan
dia. Tapi dengan sedikiti keberanian untuk bersikap seakan-akan berani, maka
orang tersebut telah ikhlas
mempersiapkan dirinya untuk menerima pengalaman baru sebagai seorang pemberani.
Mungkin postingan ini iramanya terlalu datar, namun
melalui postingan yang hambar ini myrazano ingin mengajak kita semua untuk
bersama-sama mempersiapkan diri kita sendiri dengan perhitungan-perhitungan yang akan mengarahkan kita untuk mengesampingkan
rasa takut dan mulai menyusun sebuah perencanaan yang akan memberanikan diri kita untuk berbuat
sebagaimana layaknya orang-orang yang kita anggap berani dan mari kita uji
keberanian itu dengan berbuat. Keberanian
itu tidak selalu harus dibuktikan dengan berani mati, tapi kadang-kadang
keberanian itu harus dibuktikan dengan berani untuk tetap hidup. (
Kajian Hakikat Diri )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar