Intan
Seorang petani yang berada di desa di balik desa nun jauh disana mendengar
informasi bahwa di dunia ini yang paling mahal harganya adalah intan. Intan itu
bentuknya berkilau, indah di pandang mata. Intan terpendam di dalam tanah,
untuk bisa mendapatkan
intan kita harus menggali tanah terlebih dulu. Demikian informasi singkat
dan ringkas yang diketahui oleh si petani dan dia se umur hidup belum pernah
melihat intan apalagi memegang tersebut kemudian di masukkan ke dalam karung,
di cuci dan disampan sangat rapi, dia mendengar cerita dari orang-orang.
Sebagai petani yang miskin, dia ingin memiliki intan dan menyimpan untuk
diwariskan kepada anak cucu, dengan harapan anak dan cucu nya kelak bisa hidup
berkelimpahan. Konon kabarnya sebutir intan bisa untuk membangun sebuah rumah
besar, bisa membeli beberapa petak sawah atau kebun yang luas. Petani sangat
semangat untuk memiliki intan dan menyimpannya. Dia selalu berharap dan berdoa
bisa mendapatkan intan.
Suatu hari ketika dia menyangkul di kebun, tiba-tiba dia melihat benda
berserakan dalam tanah, sebenarnya itu adalah beling atau pecahan kaca. Dengan
mata yang berbinar-binar, dia sujud syukur ke tanah, “Alhamdulillah, doa
saya terkabul, akhirnya saya mendapatkan intan, dalam jumlah yang sangat banyak”.
Pecahan-pecahan kaca yang banyak khawatir nanti intannya di curi orang. Dia
tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang benda yang disimpannya, tidak
berkonsultasi dengan ahli intan, hanya dengan modal keyakinan tanpa ilmu dan
tanpa pembimbing, dia meyakini yang disimpannya itu adalah intan.
Waktu berlalu, 20 tahun kemudian, ketika anak-anak nya sudah besar, dia
teringat dengan simpanan berharga yang dulu ditemukan di kebunnya yaitu satu
karung intan. Si Petani membawa pacahan kaca yang di yakini intan tersebut ke
kota, ke orang yang ahli tentang intan untuk di jual.
Dengan suara pelan dia mengatakan kepada pembeli intan, “Tuan, saya mau
jual intan”.
“Mana intan nya?” Tanya Pembeli. Kemudian petani mengeluarkan satu
butir pecahan kaca dan diperlihatkan kepada ahli intan. Setelah di amati, ahli
intan tertawa dan berkata kepada petani, “ini bukan intan tapi kaca!!”.
nya, hanya
Petani bertanya, “Harganya berapa?”
“Pecahan kaca tidak memiliki harga, ini sampah yang dibuang orang”
kata pembeli. Kemudian pembeli yang ahli intan memperlihatkan kepada petani
bentuk intan yang asli dan dia menjelaskan tentang secara panjang lebar dan
detail juga tentang bagaimana cara intan bisa ditemukan.
Mendengar penjelasan ahli intan, petani menjadi lemas, hilang semua impian
dan harapannya untuk mewariskan intan kepada anak-anaknya, untuk bekal dia di
hari tua. Seluruh yang disimpan dalam karung tersebut semua tidak di terima
oleh ahli intan bahkan dianggap sebagai sampah.
Saya mendengar cerita ini dari Guru saya dan sampai sekarang bagi saya ini
adalah cerita yang sangat menarik. Betapa banyak dari kita sepanjang hidup
bangga dengan amalan-amalan yang kita kumpulkan, ibadah-ibadah yang banyak
dengan harapan pahala yang melimpah namun terkadang kita tidak meneliti lebih
lanjut, tidak bertanya kepada Ahli nya, apakah yang kita kerjakan itu sudah
sesuai dengan standar yang diharapkan oleh Allah atau semua itu hanya nafsu dan
keinginan kita semata.
Kita semua meyakini ibadah yang kita kerjakan, shalat seumur hidup, puasa,
zakat dan lain-lain diterima oleh Allah tanpa kita mau berguru, belajar kepada
yang Ahli dalam bidang tersebut. Kita hanya membaca informasi dari buku,
membaca dari apa yang tertulis dalam al-Qur’an yang makna nya mungkin tidak
seperti yang kita pahami. Al-Qur’an menceritakan tentang I’tikaf, tanpa
pembimbing kita langsung ber’itikaf sendiri di mesjid, yakin Tuhan memberikan
pahala tanpa mau bertanya kepada Guru Yang Ahli.
Allah sudah mengingatkan bahwa bagi yang tidak memahami hakikat puasa dia
hanya mendapatkan lapar dan dahaga, hanya itu saja, tidak lebih. Allah
menjanjikan dua kesenangan dalam berbuka yaitu Berjumpa dengan Tuhan nya dan
berbuka. Tidak pernah kita riset, teliti dan selidiki secara mendalam, apakah
kita sudah berjumpa dengan Allah sebelum berbuka? Ataukah kita selama ini hanya
mendapatkan satu kenikmatan saja yaitu makan dengan sepuasnya ketika berbuka
puasa.
Semua orang menunggu datangnya kiamat untuk bisa mengetahui apakah
amalannya diterima atau tidak, sama halnya dengan petani yang menyimpan pecahan
kaca selama 20 tahun. Sebagian besar orang dalam ibadah itu spekulatif,
antara diterima atau tidak, hanya sebagian kecil yang sampai kepada keyakinan
dan kepastian.. Mari teliti lagi apa yang telah kita simpan dan akan kita
simpan baik di bulan Ramadhan atau diluarnya, apakah yang kita simpan itu
adalah sebuah intan yang bernilai atau jangan-jangan hanya pecahan kaca??.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar